MENU
Endang S Thohari: Pemetaan Zona Agroekologi Tekan Impor Bawang
WA FB
News

Endang S Thohari: Pemetaan Zona Agroekologi Tekan Impor Bawang

G Editor : Gunawan Purba | 25 Feb 2026 | 19:20 WIB
Endang S Thohari: Pemetaan Zona Agroekologi Tekan Impor Bawang
Komisi IV DPR RI saat kunjungan kerja reses di Brebes

Brebes, Sinata.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari, menyampaikan apresiasi atas capaian produksi Pabrik Pengolahan Bawang Merah Kelompok Tani Sidomakmur (PT Sinergi Brebes Inovatif) di Desa Sidamulya, Brebes, Jawa Tengah.

Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari penerapan dan pemetaan agroecological zone yang dilakukan secara terukur, sehingga potensi pertanian setempat mampu dimaksimalkan dan memberi nilai tambah bagi petani.

“Saya bangga melihat hasil produksi bawang Brebes. Kalau pemetaan zona agroekologi dilakukan dengan baik, seharusnya kita tidak perlu lagi impor bawang,” ujar Endang di Brebes-Tegal, Selasa (24/2/2026).

Ia mengenang, pada masa lalu impor bawang justru kerap terjadi saat panen raya. Kondisi tersebut membuat petani merugi akibat melimpahnya pasokan di pasar.

Bahkan sekitar 15 tahun silam, bawang sempat dibagikan gratis kepada pengguna jalan di Brebes karena terjadi kelebihan produksi yang tidak terserap pasar.

Kini, menurutnya, situasi mulai berubah seiring hadirnya hilirisasi produk. Keberadaan koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, dinilai mampu memperkuat perputaran ekonomi di tingkat lokal dan mencegah aliran modal keluar desa.

“Kalau lewat perbankan banyak aturannya. Sementara koperasi hasil usahanya kembali untuk kesejahteraan anggota,” tuturnya.

Endang juga menyatakan kekagumannya atas ekspor bawang merah Brebes ke sejumlah negara tetangga. Ia berharap tren positif tersebut berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Berdasarkan perhitungan yang diterimanya, biaya tanam bawang merah per hektare mencapai sekitar Rp140 juta. Namun setelah panen, pendapatan kotor bisa menembus Rp250 juta hingga Rp350 juta per hektare.

“Itu luar biasa. Saya yang bergelar doktor saja belum tentu berpenghasilan sebesar itu,” ujarnya.

Ia mendorong agar capaian ini dijadikan strategi besar yang dapat direplikasi di desa-desa lain yang memiliki komoditas unggulan.

Endang juga mengingatkan agar potensi lokal Indonesia tidak sampai dimanfaatkan negara lain. Ia mencontohkan sejumlah komoditas seperti jengkol dan petai yang kerap diasosiasikan dengan negara lain, padahal berasal dari Indonesia. (A18)

Sumber: Parlementaria

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.