MENU
Era Poin Mulai Ditinggalkan, Starbucks hingga Nike Ubah Strategi Loyal...
WA FB
Berita

Era Poin Mulai Ditinggalkan, Starbucks hingga Nike Ubah Strategi Loyalitas

R Editor : Redaksi Sinata | 16 Dec 2025 | 19:22 WIB
Era Poin Mulai Ditinggalkan, Starbucks hingga Nike Ubah Strategi Loyalitas
Brand global seperti Starbucks dan Nike mulai meninggalkan sistem poin. Token digital digunakan untuk membangun loyalitas, keterlibatan, dan identitas konsumen. (Ilustrasi)

Yang dijaga adalah kebiasaan, kedekatan, dan rasa familiar yang tumbuh dari interaksi berulang.

Ketika perusahaan ini mulai menyentuh token dan NFT, fokusnya bukan menciptakan produk baru, melainkan memperdalam relasi yang sudah ada.

Program loyalitas berbasis token mereka tidak mengubah pengalaman pelanggan secara drastis.

Konsumen tetap datang, memesan, dan menikmati layanan seperti biasa.

Namun kini, setiap interaksi meninggalkan jejak digital yang lebih bermakna.

Loyalitas tercatat bukan hanya sebagai poin, tetapi sebagai bagian dari identitas keanggotaan yang berkembang.

Teknologi blockchain bekerja di balik layar, menjamin transparansi dan kepemilikan, tanpa mengganggu kesederhanaan pengalaman pengguna.

Bagi Starbucks, teknologi hanyalah alat. Yang utama tetap hubungan jangka panjang. Nike: Loyalitas sebagai Identitas Jika Starbucks bertumpu pada kebiasaan, Nike membangun loyalitas dari identitas.

Bagi Nike, menjadi loyal berarti merasa menjadi bagian dari brand. Pendekatan ini tercermin dalam ekosistem token dan aset digital yang mereka kembangkan.

Akses ke produk digital, event, dan komunitas dirancang sebagai pengalaman eksklusif.

Token berfungsi sebagai kunci, bukan komoditas. Nilainya tidak diukur dari fluktuasi harga, melainkan dari keterlibatan yang tercipta.

Narasi tetap dijaga pada gaya hidup, kreativitas, dan komunitas.

Web3 hanya menjadi medium baru untuk memperluas cerita lama yang sudah melekat kuat pada brand.

Loyalitas pun tidak terasa seperti program pemasaran, melainkan identitas yang tumbuh bersama pengguna.

Brand token tidak bisa disamakan dengan coin kripto atau utility token.

Nilainya sepenuhnya bergantung pada reputasi brand dan kepercayaan komunitas.

Ketika kepercayaan itu kuat, token bermakna. Ketika reputasi terguncang, token kehilangan fondasi.

Karena itu, brand besar sangat berhati-hati dalam membingkai token.

Mengaitkan token dengan spekulasi berarti menyerahkan narasi kepada pasar.

Fokus pengguna bisa bergeser dari keterlibatan menjadi harapan keuntungan jangka pendek.

Bagi brand global, risiko ini terlalu besar, baik dari sisi reputasi, regulasi, maupun persepsi publik.

Karena itu, banyak brand memilih jalur tenang. Tidak ada janji imbal hasil, tidak ada dorongan jual beli, dan tidak ada narasi harga yang diangkat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.