Jakarta, Sinata.id – Para astronom berhasil mengungkap sebuah peristiwa kosmik langka berupa tabrakan dahsyat antara dua planet di sebuah sistem bintang yang berjarak sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi.
Peristiwa ini terdeteksi melalui perubahan cahaya tidak biasa dari sebuah bintang bernama Gaia20ehk di konstelasi Puppis.
Penemuan ini bermula ketika Anastasios Tzanidakis, kandidat doktor astronomi dari University of Washington, meninjau data pengamatan teleskop yang dikumpulkan sejak 2020. Saat menganalisis data tersebut, ia menemukan perilaku aneh pada bintang yang seharusnya stabil seperti Matahari.
Menurut Tzanidakis, cahaya dari bintang tersebut awalnya stabil. Namun sejak 2016, kecerahannya tercatat mengalami tiga kali penurunan drastis. Kondisi itu semakin ekstrem pada 2021 ketika perubahan cahaya terjadi secara tidak wajar.
“Bintang seperti Matahari biasanya tidak menunjukkan perilaku seperti ini. Ketika kami melihat data tersebut, kami langsung bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi,” ujar Tzanidakis, dikutip dari ScienceDaily, Minggu (15/3/2026).
Bukti Tabrakan Dua Planet
Setelah melakukan berbagai analisis, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan cahaya tersebut bukan berasal dari bintang itu sendiri. Penurunan kecerahan terjadi karena awan batu dan debu dalam jumlah besar melintas di depan bintang saat mengorbit sistem tersebut, sehingga menghalangi cahaya yang menuju Bumi.
Awan puing itu diyakini merupakan sisa dari tabrakan dahsyat antara dua planet di sistem tersebut.
“Sangat menakjubkan karena berbagai teleskop mampu menangkap peristiwa ini secara hampir real time. Kasus tabrakan planet yang tercatat sebelumnya sangat sedikit dan jarang memiliki kemiripan dengan proses yang diduga membentuk Bumi dan Bulan,” jelas Tzanidakis.
Hasil penelitian tim tersebut telah dipublikasikan pada 11 Maret 2026 dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal Letters melalui artikel berjudul Gaia-GIC-1: An Evolving Catastrophic Planetesimal Collision Candidate.
Sinyal Inframerah Ungkap Puing Superpanas
Penjelasan lebih lanjut muncul setelah James Davenport, asisten profesor riset astronomi di University of Washington, menyarankan untuk memeriksa data pengamatan dalam spektrum inframerah.
Hasilnya menunjukkan pola yang berlawanan dengan cahaya tampak. Ketika cahaya tampak dari bintang meredup dan berkedip tidak stabil, sinyal inframerah justru meningkat tajam.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.