Fenomena ini menunjukkan bahwa materi yang menghalangi cahaya bintang memiliki suhu sangat tinggi sehingga memancarkan radiasi inframerah.
Para peneliti meyakini panas ekstrem tersebut dihasilkan oleh tabrakan besar antarplanet. Awan puing yang terbentuk diperkirakan mengorbit bintang pada jarak sekitar satu satuan astronomi setara dengan jarak antara Bumi dan Matahari.
Kondisi ini membuat para ilmuwan menduga peristiwa tersebut mirip dengan tabrakan raksasa yang dipercaya terjadi sekitar 4,5 miliar tahun lalu ketika sebuah objek seukuran planet bernama Theia menabrak Bumi muda dan kemudian membentuk Bulan.
Teleskop Masa Depan Diperkirakan Temukan Lebih Banyak Kasus
Davenport menilai penelitian ini unik karena memanfaatkan data pengamatan yang dikumpulkan selama puluhan tahun untuk mengungkap fenomena yang berlangsung secara perlahan.
Menurutnya, pendekatan semacam ini membuka peluang bagi penemuan besar lainnya di bidang astronomi.
Ke depan, teleskop generasi baru seperti Vera C. Rubin Observatory, khususnya Teleskop Survei Simonyi, diperkirakan mampu mendeteksi lebih banyak peristiwa serupa.
Para ilmuwan memperkirakan observatorium tersebut dapat menemukan hingga 100 tabrakan planet dalam satu dekade mendatang.
“Pertanyaan mendasar dalam astrobiologi adalah seberapa langka peristiwa yang dapat menghasilkan planet seperti Bumi dan Bulan,” kata Davenport.
Ia menambahkan bahwa keberadaan Bulan kemungkinan menjadi salah satu faktor penting yang membuat Bumi memiliki kondisi ideal bagi kehidupan.
“Jika kita dapat menemukan lebih banyak tabrakan planet seperti ini, kita akan mulai memahami bagaimana sistem planet terbentuk dan berevolusi,” pungkasnya. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.