Pematangsiantar, Sinata.id - Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalangnya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak seluruhnya mencapai Bulan.
Fenomena yang terjadi akibat dinamika pergerakan Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya berlangsung saat fase purnama.
Mengapa Gerhana Bulan Berwarna Merah?
Gerhana Bulan Total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada segaris. Kondisi ini membuat Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Saat puncak gerhana dan langit cerah, Bulan akan tampak berwarna merah.
Warna merah tersebut disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer akan terhambur; cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru lebih banyak tersebar, sedangkan cahaya berpanjang gelombang lebih panjang seperti merah tetap lolos dan mencapai permukaan Bulan. Inilah yang membuat Bulan tampak kemerahan.
Tahun 2026 Terjadi Empat Kali Gerhana
Sepanjang 2026 diperkirakan terjadi empat fenomena gerhana, yakni dua gerhana bulan dan dua gerhana matahari:
Gerhana Matahari Cincin — 17 Februari 2026 (tidak dapat diamati dari Indonesia)
Gerhana Bulan Total — 3 Maret 2026 (dapat diamati dari Indonesia)
Gerhana Matahari Total — 12 Agustus 2026 (tidak dapat diamati dari Indonesia)
Gerhana Bulan Sebagian — 28 Agustus 2026 (tidak dapat diamati dari Indonesia)
Fase Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total memiliki tujuh fase utama:
Gerhana penumbra mulai (P1): 15.42 WIB
Gerhana sebagian mulai (U1): 16.49 WIB
Gerhana total mulai (U2): 18.03 WIB
Puncak gerhana: 18.33 WIB
Gerhana total berakhir (U3): 19.03 WIB
Gerhana sebagian berakhir (U4): 20.17 WIB
Gerhana penumbra berakhir (P4): 21.24 WIB
Wilayah yang Dapat Mengamati
Gerhana Bulan Total dapat diamati di sejumlah wilayah dunia, antara lain Asia Timur dan Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, serta sebagian wilayah Amerika dan kawasan Pasifik.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat saat Bulan terbit pada sore hingga malam hari, bergantung lokasi dan kondisi cuaca.
Aman Dilihat dengan Mata Telanjang
Gerhana bulan aman diamati tanpa alat bantu karena yang terlihat hanyalah pantulan cahaya Bulan, bukan radiasi Matahari langsung seperti pada gerhana matahari.
Namun, penggunaan teropong atau teleskop dapat membantu pengamat melihat detail permukaan Bulan saat fase totalitas.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.