MENU
Google Gugat Sindikat Peretas China, Hampir 900 Ribu Data Kartu Kredit...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Google Gugat Sindikat Peretas China, Hampir 900 Ribu Data Kartu Kredit Dicuri

R Editor : Redaksi Sinata | 18 Dec 2025 | 17:44 WIB
Google Gugat Sindikat Peretas China, Hampir 900 Ribu Data Kartu Kredit Dicuri
Google menggugat sindikat peretas China yang diduga menjalankan kampanye phishing berskala besar dengan modus layanan Google palsu. (Ist)

Sinata.id - Raksasa teknologi Google mengambil langkah hukum tegas dengan menggugat sebuah sindikat peretas asal China yang diduga berada di balik operasi penipuan digital berskala masif.

Gugatan itu menuding kelompok tersebut menjalankan kampanye phishing terorganisir untuk mengelabui warga Amerika Serikat agar menyerahkan data kartu kredit mereka.

Dalam dokumen gugatan yang diajukan pekan ini, Google menyebut jaringan peretas itu menggunakan nama “Darcula”.

Kelompok tersebut dituding mengembangkan perangkat lunak berbahaya yang memungkinkan siapa pun, bahkan dengan kemampuan teknis terbatas, melancarkan serangan phishing secara otomatis melalui pesan singkat.

Pesan-pesan tersebut dirancang seolah-olah berasal dari layanan resmi Google, dengan iming-iming akses gratis ke produk populer seperti YouTube Premium.

Namun di balik tawaran itu, korban diarahkan ke situs palsu yang bertujuan menguras informasi keuangan sensitif.

Menurut klaim Google, selama periode tujuh bulan, sindikat Darcula berhasil mengumpulkan hampir 900 ribu nomor kartu kredit.

Dari jumlah tersebut, sekitar 40 ribu di antaranya berasal dari warga Amerika Serikat.

Skala operasinya disebut luar biasa, bahkan diklaim menyumbang hingga 80 persen dari total pesan phishing yang beredar pada puncak aktivitas kelompok itu.

Google juga menyebut, jaringan ini melibatkan sekitar 600 pelaku kejahatan siber yang beroperasi secara terkoordinasi, menjadikannya salah satu kampanye penipuan digital terbesar yang pernah terdeteksi perusahaan tersebut.

Langkah hukum ini bukan tanpa alasan. Google, bersama perusahaan teknologi lain seperti Microsoft, kerap menempuh jalur pengadilan untuk mendapatkan izin menyita domain, server, dan infrastruktur digital yang digunakan pelaku kejahatan siber.

Upaya ini bertujuan memutus rantai operasi penipuan sekaligus memaksa para pelaku menghentikan aksinya atau merancang ulang metode mereka.

Dalam gugatan tersebut, Google juga mengungkap bahwa versi terbaru perangkat lunak Darcula telah dilengkapi fitur kecerdasan buatan.

Teknologi itu memungkinkan pelaku membuat tiruan hampir seluruh tampilan situs web populer hanya dalam hitungan menit, sehingga semakin sulit dibedakan dari situs asli.

Upaya konfirmasi terhadap kelompok Darcula tidak membuahkan hasil.

Pilihan Editor: Jembatan Utama Runtuh, Warga Tenge Besi Bertaruh Nyawa Setiap Hari di Jembatan Darurat

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.