MENU
Hajaran Tuhan sebagai Wujud Kasih dan Pemeliharaan Ilahi
WA FB
Religi

Hajaran Tuhan sebagai Wujud Kasih dan Pemeliharaan Ilahi

F Editor : Ferry SP Sinamo | 27 Dec 2025 | 10:00 WIB
Hajaran Tuhan sebagai Wujud Kasih dan Pemeliharaan Ilahi
Oleh : Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH

oleh : Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH Renungan Pagi Kristen berdasarkan Yeremia 10:23–24

Teks Alkitab:

“Aku tahu, ya TUHAN, bahwa jalan manusia bukanlah dalam kekuasaannya, dan orang yang berjalan tidaklah berkuasa untuk menetapkan langkahnya. Hajarilah aku, ya TUHAN, tetapi dengan keadilan, jangan dengan murka-Mu, supaya jangan Kau binasakan aku.” (Yeremia 10:23–24)

Kitab Yeremia menegaskan keterbatasan manusia dalam menentukan arah hidupnya. Manusia tidak sepenuhnya berdaulat atas langkah-langkahnya sendiri, sebab kehidupan berada di bawah kedaulatan Allah.

Kesadaran inilah yang mendorong nabi Yeremia memohon hajaran Tuhan, bukan sebagai hukuman yang membinasakan, melainkan sebagai didikan yang adil dan penuh kasih.

Alkitab secara jujur menggambarkan kondisi manusia yang kerap keras hati, memberontak, dan mudah melukai sesamanya.

Yohanes Pembaptis bahkan menyebut orang-orang Farisi dan ahli Taurat sebagai “keturunan ular beludak” (Mat. 3:7), sebuah gambaran tentang keberdosaan yang merusak relasi. Tanpa karya keselamatan Kristus, manusia akan tetap terjebak dalam lingkaran dosa dan kebinasaan.

Melalui sengsara, penderitaan, dan kematian Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih-Nya yang sempurna. Kristus mengajarkan hukum kasih: mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri.

Ia rela menderita tanpa kesalahan agar manusia dibenarkan dan dikuduskan, mencerminkan Allah yang Maha Kudus dan Maha Adil.

Hajaran Tuhan bukanlah tanda kebencian, melainkan bukti pemeliharaan-Nya.

Seperti tertulis dalam Ayub 5:18, “Karena Dia yang melukai, tetapi Dia juga yang membalut; Dia yang memukuli, tetapi tangan-Nya menyembuhkan pula.” Tuhan mendidik umat-Nya agar bertumbuh menjadi pribadi yang kuat, dewasa, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Alkitab juga menegaskan bahwa kesusahan sering kali lahir dari pilihan dan tindakan manusia sendiri, bukan semata-mata karena kehendak Allah (Ayub 5:7–8).

Karena itu, umat percaya dipanggil untuk rendah hati menerima teguran Tuhan, tanpa berusaha mengatur atau mendikte cara Allah bekerja dalam kehidupannya.

Raja Salomo mengingatkan, “Karena perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik adalah jalan kehidupan” (Amsal 6:23).

Bahkan, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5–6), sebab teguran yang benar bertujuan memulihkan, bukan menghancurkan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.