Jika dipahami dengan benar hal diatas, maka akan menjauhkan kita dari belenggu keterikatan. Juga patut diwaspadai, karena di dalam Ādittapariyāya Sutta (SN 35.28), Sang Buddha menggambarkan bahwa indera kita sangat mudah terbakar oleh nafsu, kebencian, dan delusi. Pencapaian kemerdekaan hakiki lahir ketika “api” ini padam, yaitu saat batin mencapai kedamaian sejati, disebut “Nibbāna”.
Di usia ke-80 tahun kemerdekaan, bangsa Indonesia perlu merenung, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Memang, kita bebas menentukan nasib politik dan pembangunan. Namun, sering kali sebagian dari kita masih menjadi budak keserakahan, kebencian, kebodohan, sehingga kerap bertingkah korup, menebar kebencian untuk memecah belah, serta menghalangi jalan menuju kemajuan.
Bila bangsa ingin mewujudkan cita-cita luhur para pendiri keadilan sosial, persatuan, dan kesejahteraan, sebagaimana tercantum didalam alenia pembukaan UUD 1945, maka perjuangan harus dilanjutkan di ranah batin, dimana setiap individu dituntut mempertahankan kemerdekaan dari dalam dirinya sendiri, hingga tercapai revolusi mentalitas yang sebagimana mestinya.
Perlu dipahami bersama, kemerdekaan hakiki bukan berarti bebas melakukan apa saja seenak perut, melainkan bebas dari ketiga belenggu kuat diatas, yang mengotori dan menyiksa batin.
Seseorang yang mampu tetap tenang di tengah badai, tidak larut dalam nafsu keserakahan, tidak dikuasai kebencian, dan bijaksana menghadapi sikon perubahan, dialah disebut manusia yang merdeka sejati.
Bangsa Indonesia akan mampu mewujudkan kemerdekaan hakiki, jika para elit, aparatur dan segenap pemangku kebijakannya bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kemerdekaan luar dan dalam harus berjalan seiring dan bersama.
Singkat kata, HUT RI ke-80 bukan hanya perayaan, tetapi juga ajakan untuk merenung diri lebih dalam dan jauh. Mari kita jaga kemerdekaan lahiriah bangsa, sembari berjuang untuk kemerdekaan batiniah sebagaimana diajarkan Sang Buddha. Sebab hanya dengan kebebasan lahir dan batin, cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dapat sungguh terwujud secara ideal realitis.
Idam Vo Natinam Hotu, Sukhita Hontu Natayo, semoga semua musim berjalan semestinya. Semoga dunia maju dan pesat serta selalu bahagia dan damai. Semoga pemerintah/pemimpin berlaku lurus.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.