MENU
Harga Cabai Turun, Bawang Justru “Menyengat” di Pasar Dwikora Siantar
WA FB
Berita

Harga Cabai Turun, Bawang Justru “Menyengat” di Pasar Dwikora Siantar

G Editor : Gunawan Purba | 17 Apr 2026 | 18:21 WIB
Harga Cabai Turun, Bawang Justru “Menyengat” di Pasar Dwikora Siantar
Pasar Dwikora Pematangsiantar

Pematangsiantar, Sinata.id - Pergerakan harga bahan pokok di Pasar Dwikora, Pematangsiantar, menunjukkan dinamika yang kontras. Saat harga cabai mengalami penurunan, komoditas bawang justru melonjak tajam dan membebani pengeluaran masyarakat.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (17/4/2026), harga cabai kini relatif terjangkau. Cabai merah dijual di kisaran Rp16 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, cabai rawit sekitar Rp20 ribu per kilogram, sementara cabai hijau berada di rentang Rp12 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Sebaliknya, harga bawang mengalami kenaikan signifikan. Bawang merah kini dijual Rp36 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih berkisar Rp32 ribu hingga Rp36 ribu per kilogram. Kenaikan ini menjadikan bawang sebagai komoditas dengan harga tertinggi di antara bumbu dapur utama.

Sejumlah pedagang menyebut, turunnya harga cabai belum berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah pembeli.

“Cabai memang lagi murah, tapi pembeli biasa saja. Tidak ada peningkatan berarti. Sekarang justru bawang yang mahal,” ujar Andi, salah seorang pedagang.

Pedagang menduga, melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi menjadi penyebab turunnya harga cabai. Sementara itu, terbatasnya distribusi bawang disebut menjadi faktor utama kenaikan harga di pasaran.

Di sisi lain, konsumen, terutama ibu rumah tangga, harus lebih cermat dalam mengatur belanja kebutuhan dapur. Meski harga cabai turun, tingginya harga bawang tetap menjadi beban.

“Cabai murah memang membantu, bisa beli lebih untuk stok. Tapi bawang mahal sekali, jadi harus dikurangi pembeliannya supaya cukup untuk kebutuhan,” ujar Ayu, salah seorang pembeli.

Kondisi ini menunjukkan ketidakseimbangan harga komoditas dapur yang berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat. Jika tren ini berlanjut, daya beli warga berpotensi semakin tertekan, terutama untuk kebutuhan bumbu dasar yang sulit tergantikan. (SN10)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.