Jakarta, Sinata.id - Konflik di Iran yang mengganggu pasokan minyak global berdampak signifikan terhadap harga emas dunia. Alih-alih menjadi aset safe haven, harga emas justru mengalami tekanan akibat ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan laporan CNN, pada pekan yang berakhir 22 Maret 2026, harga emas mencatat penurunan mingguan terbesar sejak 1983, yakni sebesar 11 persen. Secara kumulatif, harga logam mulia ini telah merosot lebih dari 14 persen sejak konflik dimulai.
Gejolak geopolitik tersebut turut mendorong penguatan dolar AS dan membuat investor meninjau ulang portofolio mereka. Pasar kini memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga sepanjang 2026.
Kondisi ini meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi, sekaligus mengurangi minat terhadap emas yang tidak memberikan pendapatan. The Fed diketahui telah menahan suku bunga dalam dua pertemuan terakhir. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, pasar tidak lagi mengantisipasi penurunan suku bunga tambahan pada tahun ini.
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ketika The Fed memangkas suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut. Namun, ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas.
“Dalam pelemahan harga emas baru-baru ini, kenaikan imbal hasil memiliki peran besar,” ujar ekonom strategis Fundstrat, Hardika Singh.
Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara juga menyesuaikan kebijakan moneter sebagai respons terhadap konflik Iran dan lonjakan harga energi. Kekhawatiran terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral menahan bahkan menaikkan suku bunga, seperti yang dilakukan oleh Bank Sentral Australia.
Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS turut menjadi tekanan bagi harga emas. Sepanjang bulan ini, dolar AS menguat hampir 2 persen sejak konflik Iran dimulai, mengakhiri tren pelemahan dalam beberapa bulan sebelumnya. Penguatan ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor global.
Permintaan terhadap aset safe haven, kekhawatiran inflasi, serta prospek suku bunga tinggi turut mendorong penguatan dolar AS. Hal ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik Iran terhadap perekonomian global.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.