Jakarta, Sinata.id - Pasar logam mulia mendadak bergerak tajam. Harga emas dunia yang selama beberapa pekan berada di level tinggi kini justru tergelincir cukup dalam pada awal perdagangan pekan ini.
Data perdagangan Senin (9/3/2026) menunjukkan harga emas di pasar spot turun ke sekitar US$5.078,5 per troy ons pada Senin pagi. Angka ini merosot sekitar 1,56% dibanding penutupan akhir pekan lalu dan menjadi level terendah dalam sekitar dua minggu terakhir.
Salah satu penyebab utama pelemahan harga emas datang dari penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar—yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia—naik sekitar 0,7% ke level 99,673, tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.
Kondisi ini berdampak langsung pada pasar emas. Logam mulia tersebut diperdagangkan menggunakan dolar AS, sehingga ketika nilai dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Akibatnya, permintaan global bisa melemah dan harga pun cenderung turun.
Bagi sebagian analis, koreksi harga emas bukanlah hal mengejutkan. Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas sempat melonjak tajam bahkan mencetak rekor baru.
Kenaikan panjang itu membuat pasar memasuki fase ambil untung (profit taking). Banyak investor memilih menjual sebagian kepemilikan emas mereka untuk mengunci keuntungan setelah reli yang sangat kuat.
Dalam siklus pasar komoditas, fase koreksi seperti ini kerap muncul setelah harga mengalami lonjakan tajam.
Jual atau Beli?
Bagi investor jangka pendek, pelemahan harga sering dimanfaatkan untuk melakukan aksi jual jika sebelumnya membeli di harga rendah.
Namun bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru sering dianggap sebagai kesempatan akumulasi.
Sebab secara historis, emas masih dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, ketidakpastian ekonomi, hingga gejolak geopolitik global.
Ke depan, arah harga emas masih sangat bergantung pada beberapa faktor utama. Di antaranya kebijakan suku bunga Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, serta kondisi geopolitik global.
Jika dolar terus menguat atau suku bunga bertahan tinggi, harga emas berpotensi tetap tertekan. Sebaliknya, jika ketidakpastian ekonomi meningkat, logam mulia ini bisa kembali menjadi tujuan utama investor. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.