Jakarta, Sinata.id - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan Asia, Senin (11/5/2026).
Terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal damai yang diajukan Washington.
Kenaikan harga dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah, terutama setelah negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu.
Mengutip laporan BBC, Teheran mengirimkan jawaban atas proposal damai melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator kedua negara.
Dalam tanggapannya, Iran meminta penghentian konflik secepat mungkin serta jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan lanjutan dari AS dan Israel terhadap wilayah Iran.
Namun Trump menolak syarat tersebut dan menyebut respons Iran “tidak dapat diterima.”
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut Perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump melalui media sosial Truth Social.
Di sisi lain, proposal Washington kepada Iran disebut mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian sementara program pengayaan nuklir Iran.
Ketegangan geopolitik itu langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak 3,8 persen menjadi 105,20 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 4 persen ke level 99,30 dolar AS per barel.
Situasi diperparah dengan penutupan efektif Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Jalur strategis tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.
Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang tidak akan berakhir hingga persediaan uranium yang diperkaya Iran dihancurkan.
Meski gencatan senjata yang diumumkan awal April sebagian besar masih dipatuhi, baku tembak sporadis masih terus terjadi.
Lonjakan harga energi juga membawa keuntungan besar bagi perusahaan migas global. Saudi Aramco melaporkan pendapatannya melonjak lebih dari 25 persen pada kuartal pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, BP mencatat laba lebih dari dua kali lipat, sementara Shell juga mengumumkan kenaikan pendapatan signifikan akibat melambungnya harga minyak dan gas dunia. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.