MENU
 Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu
WA FB
Ekonomi & Bisnis

 Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu

J Editor : Jansen Siahaan | 02 Mar 2026 | 11:50 WIB
 Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu
Produksi minyak dan gas bumi PT Pertamina Hulu Energi (PHE). (phe)

Jakarta, Sinata.id – Pada awal Maret 2026, pasar energi internasional mencatat pergerakan signifikan pada harga minyak mentah yang menjadi indikator utama perekonomian global.

Kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur transit penting seperti Selat Hormuz, telah mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Menurut data perdagangan terbaru, minyak mentah Brent sempat mencapai sekitar USD 82 per barel. Rata-rata harga diperkirakan masih bertahan di kisaran tinggi sepanjang pekan ini akibat memanasnya sentimen geopolitik.

Kenaikan harga ini dipicu eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar di kawasan penghasil minyak utama dunia. Pasar menilai risiko terhadap pasokan akan tetap tinggi jika ketegangan tidak segera mereda.

Saham Energi Ikut Terdongkrak

Pergerakan tajam harga minyak berdampak langsung pada saham sektor energi di bursa global dan regional. Ketika harga minyak naik, banyak perusahaan produsen dan pengolah energi melihat prospek keuntungan yang lebih tinggi.

Investor pun cenderung mengalihkan sebagian modal ke saham energi untuk memanfaatkan tren kenaikan komoditas tersebut. Namun, jika konflik berkepanjangan menekan pertumbuhan ekonomi global, sektor lain yang sensitif terhadap biaya energi berpotensi mengalami tekanan.

Sejumlah lembaga keuangan memperingatkan, apabila gangguan pasokan berlanjut, harga minyak bisa menembus USD 90 hingga USD 100 per barel, bahkan lebih tinggi dalam skenario ekstrem. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi global serta meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri.

Tren Kenaikan Sudah Terlihat

Sebelumnya, tren kenaikan sebenarnya sudah tampak. Data akhir Februari 2026 menunjukkan harga Brent berada di sekitar USD 71 per barel, sementara WTI juga bergerak di kisaran tinggi beberapa hari sebelum lonjakan terbaru.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan produsen besar seperti OPEC+. Setiap gangguan pada jalur pengiriman minyak utama biasanya langsung memicu “risk premium”, yakni tambahan harga akibat meningkatnya risiko pasokan.

Sebaliknya, jika ketegangan mereda dan distribusi kembali normal, tekanan kenaikan harga berpotensi berkurang.

Sentimen Konflik Global Memanas

Kekhawatiran publik terhadap potensi konflik internasional yang lebih luas, termasuk spekulasi perang global, turut memperburuk sentimen pasar. Meski banyak analis menilai skenario tersebut masih bersifat spekulatif, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor dominan penggerak harga minyak.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.