MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Harga Sawit di Simalungun Terjun Bebas, Biaya Perawatan Tak Tertutup,...
WA FB
Berita

Harga Sawit di Simalungun Terjun Bebas, Biaya Perawatan Tak Tertutup, Petani Menjerit

G Editor : Gunawan Purba | 29 May 2026 | 18:22 WIB
Harga Sawit di Simalungun Terjun Bebas, Biaya Perawatan Tak Tertutup, Petani Menjerit
TBS Sawit

Simalungun, Sinata.id - Petani kelapa sawit di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara menjerit, seiring dengan harga tandan buah segar (TBS) sawit di sejumlah wilayah mengalami penurunan tajam menjelang akhir Mei 2026 ini.

Misalnya di Nagori (Desa) Bosar Galugur, Kabupaten Simalungun, harga TBS sawit yang sebelumnya sempat bertahan di kisaran Rp3.100 per kilogram kini anjlok drastis menjadi sekitar Rp2.350 per kilogram , Jumat (29/5/2026).

Penurunan hingga Rp750 per kilogram itu langsung memukul pendapatan petani yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil kebun sawit.

Kondisi tersebut membuat para petani mengeluhkan tingginya biaya produksi yang tidak lagi sebanding dengan hasil penjualan. Harga pupuk yang terus melambung, ditambah biaya perawatan kebun dan kebutuhan operasional lainnya, dinilai semakin memberatkan.

Salah seorang petani sawit di Nagori Bosar Galugur, Prayetno, mengaku saat ini para petani nyaris tidak memperoleh keuntungan dari hasil panen mereka.

“Biaya pupuk dan perawatan kebun terus naik, sementara harga sawit malah turun jauh. Kondisi sekarang benar-benar memberatkan petani,” ujarnya dengan nada kecewa.

Menurutnya, turunnya harga sawit secara drastis membuat banyak petani kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun biaya perawatan kebun agar tetap produktif.

Para petani juga mengaku belum mengetahui secara pasti faktor utama penyebab merosotnya harga TBS sawit tersebut. Meski begitu, mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk mencari solusi agar harga kembali stabil.

“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah supaya harga sawit bisa kembali membaik dan petani tidak terus merugi,” tambah Prayetno.

Keluhan serupa disampaikan Mukhtar, petani lainnya di wilayah tersebut. Ia mengatakan sawit merupakan sumber penghasilan utama masyarakat, sehingga anjloknya harga membuat ekonomi keluarga ikut terguncang.

“Harga kebutuhan sehari-hari terus naik, tapi hasil sawit justru turun. Kami hanya berharap dari kebun sawit untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkapnya. (SN10)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.