Di sisi lain, Citigroup membuka skenario paling optimistis. Dalam pandangan bullish, harga tembaga disebut berpeluang melesat hingga US$15.000 per ton, terutama jika dolar AS melemah dan suku bunga Amerika Serikat mulai dipangkas, mendorong arus dana investor ke komoditas.
Namun tidak semua pihak sepenuhnya yakin reli ini sehat. Goldman Sachs mengingatkan bahwa lonjakan harga saat ini lebih banyak dipacu ekspektasi dan spekulasi atas pengetatan pasar di masa depan, ketimbang kondisi fundamental pasokan dan permintaan jangka pendek.
Meski stok tembaga global tercatat meningkat, sebagian besar persediaan tersebut terserap di gudang-gudang AS dan tidak mengalir ke pasar internasional. Kondisi ini memaksa produsen di wilayah lain saling bersaing ketat untuk mempertahankan pasokan.
“Stok itu pada dasarnya tertahan di Amerika Serikat dan akan terkikis secara perlahan. Ini bagian dari tren menuju swasembada yang lebih besar,” kata Amos.
Pada penutupan perdagangan, harga tembaga di LME menguat 1,1 persen ke level US$12.060,50 per ton. Sementara itu, pergerakan logam industri lainnya bervariasi. Nikel mencuri perhatian dengan lonjakan sekitar 3 persen, memperpanjang reli setelah Indonesia mengusulkan pemangkasan produksi bijih nikel mulai 2026. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.