Didy menjelaskan, praktik ini membuat penipuan terasa semakin meyakinkan. Pelaku tak lagi sekadar mengirim chat atau nomor rekening, melainkan membangun kepercayaan lewat visual identitas.
“Begitu korban melihat KTP dan selfie, logika langsung turun. Padahal data itu bisa dibeli, bahkan ditukar,” jelasnya.
Modus ini disebut-sebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya korban penipuan online, mulai dari jual-beli fiktif, investasi bodong, hingga pinjaman ilegal.
Kehebohan ini memicu desakan agar platform media sosial dan aparat penegak hukum lebih serius menindak perdagangan data pribadi. Banyak pihak menilai kebocoran data sudah berada di tahap mengkhawatirkan, bahkan mengancam keamanan masyarakat luas.
Didy pun mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menjadikan foto KTP sebagai tolok ukur kepercayaan.
“Kalau ada orang kirim KTP duluan, itu justru patut dicurigai, bukan diyakini,” tegasnya. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.