Jakarta, Sinata.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4), dengan proyeksi berada di level 7.308. Tekanan pasar terjadi setelah IHSG sebelumnya ditutup turun signifikan pada perdagangan Kamis (23/4).
Pada penutupan Kamis, IHSG tercatat melemah 163,006 poin atau 2,16 persen ke level 7.378,606. Koreksi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat di pasar saham domestik.
Analis Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa secara teknikal, indikator stochastic RSI mengarah turun di area pivot, yang mengindikasikan potensi lanjutan pelemahan.
“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di level 7.308,” ujar analis Phintraco Sekuritas dalam keterangannya, Jumat (24/4).
Rupiah Terkoreksi Tajam, Sentimen Global Menekan Pasar Tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS dan ditutup di level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot.
Menurut analis, ini merupakan level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah sekaligus menjadi pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Pelemahan rupiah yang terjadi secara cepat dinilai di luar ekspektasi pasar. Kondisi tersebut diperburuk oleh kekhawatiran global terkait penutupan Selat Hormuz yang berpotensi menahan harga minyak tetap tinggi. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi serta potensi pelebaran defisit anggaran belanja negara.
Rekomendasi Saham dan Proyeksi Lanjutan IHSG Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai masih memiliki peluang di tengah tekanan pasar, di antaranya BBTN, ELSA, INDY, TSPC, dan MYOR.
Sementara itu, MNC Sekuritas juga memperkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan rentang pergerakan di level 7.245 hingga 7.354.
“IHSG berpotensi menguji area koreksi sekaligus menutup gap di kisaran tersebut,” tulis MNC Sekuritas. Adapun saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas meliputi ADRO, INKP, OASA, dan WIFI.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap hati-hati mengingat tekanan global dan fluktuasi nilai tukar yang cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.(A07)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.