MENU
IHSG Terkapar, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp800 Triliun dalam Sepekan
WA FB
News

IHSG Terkapar, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp800 Triliun dalam Sepekan

R Editor : Redaksi Sinata | 18 Oct 2025 | 17:05 WIB
IHSG Terkapar, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp800 Triliun dalam Sepekan
IHSG melemah tajam hingga 4,14% dengan market cap turun 5,2%. BRI, Barito Pacific, dan MLPT jadi pemberat utama, sementara pasar didera ketidakpastian global.

Sinata.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, terkoreksi sekitar 4,14% meski investor asing masih melakukan aksi beli bersih sebesar Rp1,94 triliun. Angka ini memang positif, namun jauh menurun dari pekan sebelumnya yang menembus Rp3,2 triliun.

Dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menanjak hingga posisi tertinggi di level 8.288, namun kemudian terjerembab ke titik terendah di 7.915. Nilai kapitalisasi pasar pun ikut melorot menjadi Rp14.746 triliun, atau terkoreksi sekitar 5,2% dalam sepekan terakhir.

Tak hanya itu, nilai transaksi harian rata-rata juga turun menjadi Rp27,45 triliun, melemah 2,44% dibandingkan minggu sebelumnya. Aksi jual yang massif membuat pasar domestik tertutup dalam warna merah, dengan tekanan kuat dari sejumlah saham unggulan.

Saham Unggulan Jadi Pemberat

Tercatat beberapa emiten besar menjadi penyumbang tekanan terbesar bagi IHSG.

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menekan indeks hingga -37,5 poin.

  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut menyumbang beban -37,43 poin.

  • PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) juga ikut menekan dengan -31,59 poin.

Menurut data Bloomberg Technoz, jelang penutupan perdagangan, IHSG bahkan sempat terperosok lebih dari 3% ke posisi 7.880, sebelum akhirnya menutup pekan pada 7.915 atau -2,57%. Volume transaksi melonjak mencapai 40,27 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp28,55 triliun, sebagian besar didorong aksi jual besar-besaran dari investor domestik.

Sentimen eksternal menjadi faktor dominan. Ketegangan geopolitik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, terutama soal perang dagang dan ekspor mineral tanah jarang (rare earth).

Ekonom dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai pelemahan IHSG pekan ini bukan kebetulan.

“Korelasi bearish kali ini lebih banyak dipicu tensi perang dagang AS-China. Donald Trump menaikkan tarif impor dari China hingga 100%, dan pasar langsung bereaksi negatif,” ungkap Hans.

Ia menambahkan, meski secara fundamental ekonomi Indonesia masih stabil, ketidakpastian global membuat pelaku pasar memilih menahan diri. “Dari dalam negeri sendiri sebenarnya aman, tapi pelaku pasar jadi lebih waspada setelah muncul pernyataan soal ‘saham gorengan’,” tambahnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.