MENU
Ikan Sidat Lebih Kaya Nutrisi dari Salmon, Termasuk Omega 3
WA FB
Inspiratif

Ikan Sidat Lebih Kaya Nutrisi dari Salmon, Termasuk Omega 3

G Editor : Gunawan Purba | 31 May 2026 | 11:21 WIB
Ikan Sidat Lebih Kaya Nutrisi dari Salmon, Termasuk Omega 3
Ilustrasi ikan sidat (ft: AI)

Sinata.id - Ikan sidat dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan bahkan disebut lebih unggul dibandingkan ikan salmon dalam beberapa aspek gizi.

Namun, di balik potensinya sebagai sumber pangan bergizi, populasi ikan sidat di alam liar kini menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi berlebihan dan berbagai tekanan lingkungan.

Meski kerap disamakan dengan belut, ikan sidat memiliki sejumlah perbedaan fisik yang mudah dikenali. Sidat memiliki sirip lengkap dan tubuh bersisik seperti ikan pada umumnya, sedangkan belut tidak memiliki sirip dan tubuhnya licin tanpa sisik.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ikan sidat mengandung asam lemak omega-3 berupa DHA dan EPA dengan kadar yang sedikit lebih tinggi dibandingkan salmon.

Kandungan DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sementara EPA berfungsi menjaga kesehatan jantung serta membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.

Selain itu, ikan sidat juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, dan fosfor. Kandungan vitamin A pada sidat diketahui lebih tinggi dibandingkan salmon. Namun, untuk beberapa jenis vitamin B seperti B2, B5, dan B6, salmon masih memiliki kandungan yang lebih tinggi.

Di tengah keunggulan nutrisinya, ketersediaan ikan sidat semakin terbatas akibat menurunnya populasi di alam. Kelangkaan tersebut berdampak pada tingginya harga jual sehingga tidak mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Penurunan populasi sidat dipengaruhi oleh karakteristik siklus hidupnya yang bersifat katadromus, yaitu menetas di laut, tumbuh di perairan tawar atau muara, kemudian kembali ke laut untuk berkembang biak. Siklus hidup yang kompleks membuat spesies ini rentan terhadap perubahan lingkungan dan gangguan ekosistem.

Selain itu, tingginya permintaan pasar global turut meningkatkan tekanan terhadap populasi sidat. Penangkapan yang berlebihan, terutama terhadap sidat dewasa, menyebabkan berkurangnya kesempatan ikan tersebut untuk bereproduksi dan memperbarui populasinya secara alami.

Untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menerapkan kebijakan pengaturan kuota penangkapan serta menetapkan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan populasi sidat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.