MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Ilmuwan Ungkap Penyebab Suhu Arktika Naik 3 Derajat, Tak Hanya karena...
WA FB
Sains & Teknologi

Ilmuwan Ungkap Penyebab Suhu Arktika Naik 3 Derajat, Tak Hanya karena Es Mencair

J Editor : Jansen Siahaan | 19 May 2026 | 08:15 WIB
Ilmuwan Ungkap Penyebab Suhu Arktika Naik 3 Derajat, Tak Hanya karena Es Mencair
Wilayah Arktika. (goodstats)

Pematangsiantar, Sinata.id – Wilayah Arktika di Kutub Utara kini menghadapi krisis iklim yang jauh lebih parah dibandingkan wilayah lain di dunia.

Sejak awal revolusi industri, suhu rata-rata global Bumi tercatat meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius. Namun, pada periode yang sama, kawasan Arktika justru mengalami lonjakan suhu ekstrem hingga mencapai 3 derajat Celsius.

Selama ini, laju pemanasan yang sangat cepat tersebut kerap dikaitkan dengan mencairnya es laut. Fenomena itu terjadi ketika permukaan es putih yang bersifat reflektif digantikan oleh hamparan air laut gelap yang menyerap panas matahari, atau dikenal sebagai efek albedo.

Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa penyebab pemanasan Arktika jauh lebih kompleks.

Menurut penjelasan ilmiah, terdapat dua mekanisme tambahan yang saling berinteraksi, yakni konveksi udara dan keberadaan uap air.

Faktor Konveksi: Panas Tertahan di Permukaan

Dikutip dari National Geographic Indonesia, teori awal mengenai pemanasan kutub sebenarnya sudah diperkenalkan sejak tahun 1896 oleh ahli kimia asal Swedia, Svante Arrhenius.

Kini, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi faktor pendukung lain, salah satunya perbedaan proses konveksi udara.

Konveksi terjadi ketika udara di dekat permukaan Bumi menghangat akibat panas tanah, menjadi lebih ringan, lalu bergerak naik ke atmosfer.

Di wilayah tropis, sinar matahari memanaskan permukaan Bumi secara intens dan berkelanjutan. Kondisi tersebut memicu konveksi kuat yang mencampur atmosfer secara vertikal, sehingga panas dari gas rumah kaca tersebar hingga ke lapisan atas atmosfer.

Sebaliknya, di Arktika, intensitas sinar matahari sangat minim. Atmosfer di Kutub Utara justru memperoleh panas utama dari aliran udara hangat dan lembap yang terbawa dari wilayah tropis.

Akibatnya, pencampuran udara secara vertikal sangat jarang terjadi.

Ketika karbon dioksida (CO2) memerangkap panas, energi panas tambahan itu tidak menyebar ke atmosfer bagian atas, melainkan tertahan dan menumpuk di dekat permukaan daratan Arktika.

Efek Berantai Uap Air

Selain faktor konveksi, uap air juga berperan besar dalam mempercepat pemanasan di Kutub Utara.

Seiring meningkatnya suhu global akibat pemanasan bumi, jumlah uap air di atmosfer ikut meningkat, termasuk di kawasan Arktika.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.