Habib juga menyoroti pentingnya pemerataan akses AI pertanian, seperti teknologi pendeteksian hama berakurasi tinggi, agar tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
“Teknologi AI dengan akurasi tinggi harus bisa dimanfaatkan petani kecil, idealnya cukup melalui perangkat sederhana seperti ponsel pintar atau IoT pertanian yang mudah digunakan,” katanya.
Lebih jauh, politisi Fraksi PKS tersebut menilai isu AI dan ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan diplomasi parlemen. Indonesia, menurutnya, perlu memiliki konsep dan model yang kuat untuk diperkenalkan di forum internasional.
“Jika Indonesia membawa model ketahanan pangan berbasis AI ke tingkat global, harus ada nilai jual yang membedakan dan bisa dibanggakan,” ujarnya.
Ia optimistis riset dan inovasi yang dikembangkan IPB University dapat menjadi keunggulan kompetitif Indonesia, khususnya sebagai negara beriklim tropis.
“AI pertanian yang sesuai dengan karakter wilayah tropis adalah modal besar agar Indonesia dapat menjadi rujukan, baik di kawasan maupun dunia,” tutur Habib. (A18)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.