“Ini menunjukkan kita sudah melangkah jauh. Platform sudah tersedia, pasar sudah dibentuk. Tantangannya sekarang adalah memperkuat kepercayaan agar mekanisme kita diterima dunia,” ujarnya.
Karena itu, Ateng menekankan KTT Pasar Karbon harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memamerkan berbagai inisiatif konkret Indonesia.
Ia menilai forum tersebut bukan sekadar acara seremonial, melainkan ajang menunjukkan komitmen, keseriusan, dan kepemimpinan Indonesia dalam perdagangan karbon internasional.
“Indonesia harus tampil percaya diri. Kita punya pengalaman, modal ekologis, dan instrumen kebijakan. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar, tanpa diakui sebagai pemain utama,” katanya.
Ke depan, Indonesia juga bersiap menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim atau Conference of the Parties (COP) berikutnya. Langkah ini dinilai akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin global dalam upaya pengendalian perubahan iklim hingga 2030.
“Dengan kekayaan biodiversitas, pengalaman panjang, dan kesiapan kebijakan yang dimiliki, Indonesia seharusnya bisa menjadi rujukan dunia dalam pengendalian perubahan iklim hingga 2030,” pungkas Ateng. (A18)
Sumber: Parlementaria
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.