Pematangsiantar, Sinata.id - Laju inflasi di Kota Pematangsiantar menunjukkan tren kenaikan pada April 2026 setelah sebelumnya sempat mengalami deflasi tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,19 persen.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi mencapai 3,62 persen, menandakan adanya peningkatan tekanan harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini dipicu oleh sejumlah komoditas pangan, dengan minyak goreng menjadi penyumbang terbesar inflasi sebesar 0,09 persen. Disusul bawang merah dan tomat yang masing-masing berkontribusi 0,05 persen, kemudian jeruk 0,04 persen serta ikan nila 0,03 persen.
Staf BPS Pematangsiantar, Harga Wahyu Andamari menuturkan, kenaikan harga pangan masih menjadi faktor dominan dalam mendorong inflasi bulan ini.
“Tekanan inflasi pada April terutama dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan, khususnya minyak goreng yang memberikan andil terbesar. Selain itu, beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan tomat juga mengalami kenaikan harga akibat faktor distribusi dan pasokan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026)
Ia juga menambahkan, secara kumulatif tahun berjalan, minyak goreng mencatat inflasi cukup tinggi hingga 7,25 persen, menjadikannya salah satu komoditas dengan tekanan harga paling signifikan.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu menahan laju inflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terdalam sebesar -0,12 persen, dengan penurunan kumulatif mencapai 6,75 persen sejak awal tahun.
“Penurunan harga daging ayam ras cukup dalam dan menjadi penahan utama laju inflasi bulan ini. Selain itu, komoditas seperti cabai merah, emas perhiasan, serta sayuran juga mengalami koreksi harga,” tambahnya.
Meski cabai merah menyumbang deflasi pada April, secara kumulatif harga komoditas ini telah turun drastis hingga lebih dari 55 persen sepanjang tahun berjalan.
BPS menilai, kembalinya inflasi ke zona positif mencerminkan mulai menguatnya permintaan masyarakat serta adanya dinamika pasokan di beberapa komoditas.
“Masyarakat perlu mewaspadai fluktuasi harga yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan, terutama pada komoditas pangan yang sensitif terhadap distribusi dan musim,” pungkasnya. (SN10)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.