Jakarta, Sinata.id - Infeksi paru-paru atau pneumonia masih menjadi ancaman kesehatan global yang dapat menyerang semua kelompok usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat, infeksi saluran pernapasan akut ini termasuk salah satu penyebab utama kematian akibat infeksi, terutama pada anak-anak.
Di Indonesia maupun berbagai negara lain, kasus pneumonia kerap dipicu faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah melalui perubahan perilaku sehari-hari.
Pneumonia merupakan kondisi peradangan pada kantong udara (alveoli) di paru-paru yang terisi cairan atau nanah akibat infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Dalam praktik medis, istilah “paru-paru basah” kerap digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Gejala yang umum muncul meliputi demam, batuk berdahak kental berwarna kuning atau hijau, sesak napas, nyeri dada saat bernapas, hingga penurunan nafsu makan, mual, muntah, dan sakit kepala.
Sejumlah lembaga kesehatan menyebutkan bahwa kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terserang pneumonia.
Merokok menjadi salah satu faktor utama. Asap rokok diketahui merusak mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan dalam melawan kuman.
Lembaga kesehatan seperti Mayo Clinic menjelaskan bahwa paparan zat beracun dari rokok dapat melemahkan fungsi silia-struktur halus di saluran napas yang berperan menyaring partikel asing-sehingga bakteri dan virus lebih mudah masuk dan berkembang.
Konsumsi alkohol berlebihan juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi paru. Asupan alkohol dalam jumlah tinggi dapat menurunkan daya tahan tubuh serta mengganggu refleks batuk dan menelan.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan aspirasi, yakni masuknya cairan atau muntahan ke dalam paru-paru, yang kemudian memicu infeksi.
Faktor kebersihan turut berperan. Tidak mencuci tangan secara rutin, jarang membersihkan lingkungan, serta kurang menjaga etika batuk dan bersin dapat memperbesar peluang penularan kuman penyebab infeksi saluran pernapasan.
Penularan dapat terjadi melalui percikan droplet maupun kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.
Paparan polusi udara dan zat beracun, baik di luar maupun di dalam ruangan, juga menjadi faktor risiko. Partikel polutan dapat mengiritasi saluran napas dan menurunkan kemampuan paru-paru dalam melawan infeksi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.