Teheran, Sinata.id – Ketegangan panjang antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru. Pemerintah Iran secara terbuka memberi sinyal kesediaan menurunkan tingkat pengayaan uranium jika Washington bersedia mencabut sanksi ekonomi yang selama ini menekan negaranya.
Isyarat itu disampaikan pada Senin (9/2/2026) dan langsung memantik spekulasi global soal kemungkinan hidupnya kembali jalur diplomasi yang sempat membeku. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengungkapkan bahwa Teheran siap mengambil langkah teknis untuk meredakan kekhawatiran internasional, meski belum menjelaskan apakah pencabutan sanksi yang dimaksud mencakup seluruh rezim internasional atau hanya sanksi Amerika Serikat.
Sinyal ini muncul setelah pertemuan tidak langsung antara perwakilan Iran dan AS di Oman pekan lalu. Kedua pihak menyebut dialog tersebut berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif, meskipun belum menghasilkan kesepakatan resmi.
Secara teknis, penurunan kadar uranium dilakukan melalui proses pengenceran, yakni mencampur uranium yang sudah diperkaya dengan material lain agar tingkatnya turun di bawah ambang sensitif.
Sebelum fasilitas nuklir Iran diserang Amerika Serikat dan Israel pada Juni tahun lalu, Teheran diketahui telah memperkaya uranium hingga 60 persen—angka yang jauh melampaui batas 3,67 persen yang disepakati dalam perjanjian nuklir 2015 yang kini telah runtuh.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat, Iran menjadi satu-satunya negara nonpemilik senjata nuklir yang mampu mencapai tingkat pengayaan setinggi itu. Bahkan, sebelum konflik, Iran disebut menyimpan lebih dari 400 kilogram uranium berkadar tinggi. Lokasi terakhir material tersebut tercatat pada 10 Juni oleh para inspektur PBB.
Dengan cadangan sebesar itu, Iran secara teoritis memiliki potensi untuk memproduksi lebih dari sembilan senjata nuklir jika pengayaan dinaikkan ke level 90 persen—ambang yang dibutuhkan untuk keperluan militer.
Di tengah tekanan internasional, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan agar rakyat tidak gentar menghadapi tekanan asing. Ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari persenjataan.
“Kekuatan nasional tidak hanya terletak pada rudal dan pesawat tempur, tetapi pada kemauan serta tekad rakyatnya,” ujar Khamenei. “Tunjukkan kembali kekuatan itu dan gagalkan rencana musuh.”
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.