Teheran, Sinata.id — Serangan militer pre-emptive yang dilancarkan oleh Israel bersama Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026) terhadap Republik Islam Iran semakin menggarisbawahi bahwa program nuklir Iran tetap menjadi alasan utama ketegangan yang memuncak di Timur Tengah dan konflik berskala internasional.
Operasi yang dikenal sebagai Operation Lion’s Roar menandai eskalasi konflik yang didorong oleh kekhawatiran Israel dan sekutunya bahwa Tehran bisa menggunakan atau mengembangkan kemampuan nuklir dan rudal balistik yang mengancam keamanan regional. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa isu nuklir telah menjadi fokus sentral perdebatan diplomatik dan militer dalam konflik tersebut.
Program nuklir Iran telah lama menjadi isu kontroversial sejak Republik Islam meluncurkan fasilitas pengayaan uranium di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Meskipun Iran berulang kali bersikeras bahwa program ini bersifat damai dan untuk energi sipil, banyak negara barat dan Israel menilai fasilitas tersebut berpotensi mengarah pada senjata nuklir.
Beberapa serangan sebelumnya oleh Israel pada target-target nuklir di Iran pernah terjadi, terutama serangan besar pada Juni 2025 yang menghantam puluhan fasilitas termasuk laboratorium pengayaan dan basis militer. Insiden itu mengakibatkan korban di Teheran dan meningkatkan intensitas saling serang kedua negara.
Pemerintah Israel menyatakan serangan terbaru dilakukan untuk menghilangkan ancaman serius dari program nuklir dan kemampuan misil Iran, yang menurut Tel Aviv bisa digunakan untuk mengancam keamanan regional dan global jika tidak segera dihentikan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Iran “tidak boleh diizinkan” untuk mengembangkan senjata nuklir.
Aksi tersebut mencakup serangan terhadap fasilitas strategis di beberapa kota besar Iran seperti Teheran, Qom, Kermanshah, dan Isfahan, serta terjadi koordinasi aksi militer dengan Amerika Serikat. Washington juga menyatakan fokus operasi pada penghancuran kemampuan militer Iran, termasuk sistem rudal dan fasilitas nuklir yang dicurigai.
Imbauan damai dan pembicaraan diplomatik tingkat tinggi sebelumnya antara Iran dan Amerika Serikat difokuskan pada pembatasan program nuklir Iran. Namun, perbedaan tajam terkait inspeksi, pembatasan rudal balistik, dan sanksi membuat negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang kuat.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.