Jakarta, Sinata.id — Fenomena baru yang disebut “ngebalon” di dunia hiburan malam kini menjadi perhatian serius setelah diangkat oleh DJ dan influencer Dinar Candy melalui unggahan media sosialnya. Tren ini bahkan ramai diperbincangkan pengguna TikTok, Instagram, hingga X karena dikaitkan dengan cara baru menyalahgunakan zat-zat berbahaya di kalangan anak muda.
Menurut Dinar Candy, “ngebalon” bukan sekadar aktivitas santai, melainkan cara menghirup gas dari karet balon untuk mendapatkan sensasi euforia. “Selain podgeter yang sempat aku bahas sebelumnya, ada juga yang namanya balon,” ujar Dinar dalam sebuah unggahan di Instagramnya, dikutip Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa balon-balon yang tampak seperti dekorasi pesta itu ternyata sering diisi gas tertentu yang kemudian dihirup oleh pengunjung club. “Katanya gasnya dihirup dan bikin sensasi ‘melayang sampai pagi’ — itu narkocoy,” ucapnya sambil memperingatkan supaya anak muda tidak tergoda.
Bahaya Tertawa atau Gas N2O: Lebih dari Sekadar Tren
Gas yang dimaksud dalam praktik ngebalon itu diduga kuat adalah Nitrous Oxide, atau yang dikenal dengan istilah gas tertawa. Dalam konteks medis dan industri makanan, N2O berfungsi sebagai anestesi ringan atau pendorong crème kocok, namun bukan untuk konsumsi rekreasi.
Kepala Badan Narkotika Nasional RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menyatakan bahwa penggunaan N2O di luar konteks resmi bisa memberikan efek euforia sementara, namun risikonya sangat serius. “Gas tertawa ini bisa menyebabkan kekurangan oksigen, kerusakan saraf permanen, bahkan kematian,” ujarnya.
BNN juga mengingatkan bahwa, meskipun secara hukum nitrous oxide belum diklasifikasikan sebagai narkotika di Indonesia, penyalahgunaan zat tersebut tetap berbahaya dan membutuhkan kewaspadaan masyarakat.
Fenomena “Ngebalon” dan Gaya Hidup di Dunia Malam
Peredaran gas tertawa ini kerap disamarkan dalam bentuk tabung kecil (cartridges) atau bahkan balon yang tampak tidak mencurigakan bagi pengunjung club. Cara ini mempermudah penyalahgunaan di tempat hiburan malam karena mudah tersebar dan sulit dikenali secara kasat mata.
Fenomena ini mencerminkan perubahan modus penyalahgunaan zat adiktif yang semakin canggih. Menurut pengamat sosial, tren seperti ini seringkali muncul karena kombinasi faktor: keinginan untuk sensasi baru, tekanan lingkungan sosial, dan minimnya edukasi tentang dampak kesehatan jangka panjang.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.