Bangkok, Sinata.id - Ketegangan di jalur pelayaran paling strategis dunia kembali memanas. Sebuah kapal kargo berbendera Thailand dilaporkan terkena serangan proyektil di Selat Hormuz, memicu reaksi keras dari pemerintah Bangkok yang langsung memanggil Duta Besar Iran untuk meminta penjelasan.
Informasi dihimpun Kamis (12/3/2026), serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik militer di Timur Tengah yang mulai menyeret jalur perdagangan global. Kapal kargo Thailand tersebut mengalami kerusakan serius setelah dihantam proyektil ketika melintas di kawasan perairan yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Pemerintah Thailand dengan cepat mengecam insiden tersebut dan menyatakan protes diplomatik secara resmi kepada Teheran. Otoritas Bangkok juga bergerak cepat melakukan koordinasi penyelamatan setelah sejumlah awak kapal dilaporkan dalam kondisi darurat.
Tiga Awak Masih Hilang
Informasi awal menyebutkan sebagian besar kru kapal berhasil dievakuasi setelah serangan terjadi. Namun hingga kini, tiga awak kapal masih dinyatakan hilang dan diduga terjebak di bagian kapal yang rusak akibat ledakan.
Tim penyelamat dan otoritas maritim internasional terus melakukan operasi pencarian di sekitar lokasi kejadian. Upaya tersebut berlangsung di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil di kawasan Teluk Persia.
Iran Mengklaim Kapal Abaikan Peringatan
Di sisi lain, laporan internasional menyebutkan pihak Iran mengakui serangan terhadap kapal tersebut. Menurut otoritas militer Iran, kapal yang disasar diduga tetap melanjutkan perjalanan meski telah mendapat peringatan untuk tidak melintas di area konflik.
Pernyataan ini langsung memicu polemik diplomatik karena Thailand menilai serangan terhadap kapal sipil tidak dapat dibenarkan. Pemerintah Bangkok menegaskan keselamatan pelayaran internasional harus dihormati, terlebih di jalur perdagangan yang digunakan banyak negara.
Selat Hormuz Makin Berbahaya
Insiden terhadap kapal Thailand menjadi bagian dari rangkaian serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut. Sejak konflik Timur Tengah memanas, beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan rudal, drone, maupun proyektil laut.
Situasi ini membuat banyak operator pelayaran menahan kapal mereka di Teluk Persia karena khawatir menjadi sasaran berikutnya. Ketegangan yang terus meningkat bahkan mulai mengguncang pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.