MENU
Kapal Wisata Tenggelam, DPR Desak Pengawasan Laut Diperketat
WA FB
Nasional

Kapal Wisata Tenggelam, DPR Desak Pengawasan Laut Diperketat

G Editor : Gunawan Purba | 31 Dec 2025 | 14:31 WIB
Kapal Wisata Tenggelam, DPR Desak Pengawasan Laut Diperketat
Kapal tenggelam

Jakarta, Sinata.id – Peristiwa tenggelamnya kapal wisata di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, menjadi alarm keras terhadap lemahnya sistem keselamatan transportasi laut, khususnya pada kapal wisata yang banyak dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, menilai bahwa kepemilikan dokumen kelaiklautan kapal tidak boleh lagi dianggap sebagai jaminan keselamatan saat kapal beroperasi.

Ia menyoroti masih lebarnya jarak antara kelengkapan administratif dan kondisi teknis kapal di lapangan. Menurutnya, kejadian ini menunjukkan bahwa izin laik laut secara formal belum tentu mencerminkan tingkat keamanan sebenarnya.

Saadiah menegaskan perlunya penguatan pengawasan terhadap kapal wisata melalui audit kelayakan yang lebih mendalam dan faktual.

Ia menekankan bahwa pemeriksaan tidak boleh berhenti pada dokumen semata, melainkan harus menyentuh kondisi teknis kapal yang sesungguhnya, termasuk kapal-kapal yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Lebih lanjut, ia mendorong agar proses sertifikasi kelaiklautan kapal dilengkapi dengan pengujian langsung terhadap ketahanan mesin dan sistem keselamatan, terutama dalam menghadapi arus laut kuat dan gelombang ekstrem. Uji teknis dalam kondisi nyata dinilai penting agar kapal benar-benar siap beroperasi di berbagai situasi.

Ia juga meminta peran Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta syahbandar diperkuat. Menurutnya, institusi tersebut tidak cukup hanya berfungsi sebagai penerbit Surat Persetujuan Berlayar, tetapi harus aktif melakukan pengawasan selama kapal beroperasi.

Menjelang periode libur akhir tahun yang identik dengan peningkatan aktivitas wisata dan potensi cuaca buruk, Saadiah menilai pendekatan mitigasi risiko harus bersifat antisipatif.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data dan sistem pemantauan cuaca secara real-time agar potensi bahaya dapat dideteksi lebih dini.

Dalam konteks tersebut, ia mendorong integrasi sistem peringatan dini cuaca dari BMKG dengan penerbitan izin berlayar. Dengan sistem terintegrasi, izin berlayar diharapkan dapat dibatalkan secara otomatis apabila terdeteksi kondisi cuaca berbahaya, seperti gelombang tinggi atau anomali swell.

Selain aspek teknis dan cuaca, Saadiah juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kapal wisata. Ia menegaskan bahwa pelatihan kru, termasuk manajemen krisis dan penanganan keadaan darurat, harus menjadi kewajiban yang dijalankan secara serius, bukan sekadar formalitas administratif.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.