MENU
Kasih Tidak Pemarah: Renungan Pagi Kristen tentang Mengendalikan Amara...
WA FB
Religi

Kasih Tidak Pemarah: Renungan Pagi Kristen tentang Mengendalikan Amarah Menurut Amsal 15:18

F Editor : Ferry SP Sinamo | 11 Feb 2026 | 03:22 WIB
Kasih Tidak Pemarah: Renungan Pagi Kristen tentang Mengendalikan Amarah Menurut Amsal 15:18
Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH

Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH

Renungan Pagi: Kasih yang Memadamkan Pertengkaran

Amsal 15:18 menegaskan, “Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.” Ayat ini mengingatkan bahwa emosi yang tidak terkendali dapat memicu konflik, sementara kesabaran menjadi jalan untuk menghadirkan damai.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia pernah mengalami marah, baik dalam kadar kecil maupun besar. Bahkan dalam Alkitab, terdapat peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kemarahan, baik dari manusia maupun tindakan ilahi sebagai bentuk keadilan dan kekudusan.

Pelajaran dari Peristiwa Alkitab

 1. Peristiwa Uza dan Tabut Allah (1 Tawarikh 13:8–12) 

Ketika Tabut Allah hampir jatuh, Uza menyentuhnya untuk menahan. Namun ia mati seketika, karena Tabut melambangkan kekudusan Allah yang tidak boleh disentuh sembarangan. Peristiwa ini membuat Daud takut, sekaligus mengingatkan bahwa kekudusan Tuhan harus dihormati.

 2. Yesus Menyucikan Bait Allah 

Dalam Perjanjian Baru, Yesus marah ketika Bait Allah dijadikan tempat berdagang. Ia membalikkan meja-meja para pedagang dan melepaskan hewan-hewan. Kemarahan Yesus bukan karena emosi pribadi, tetapi karena kecintaan-Nya pada kekudusan rumah Tuhan.

 3. Kehancuran Sodom dan Gomora (Kejadian 18:16–33) 

Abraham memohon agar kota itu diselamatkan, namun karena tidak ditemukan orang benar selain Lot dan keluarganya, kota tersebut dihancurkan. Peristiwa ini menunjukkan keadilan Allah atas dosa yang terus-menerus dilakukan manusia.

 Makna Kasih yang Tidak Pemarah 

Kasih sejati tidak dikuasai emosi yang meledak-ledak. Kemarahan yang benar dalam Alkitab bukanlah kemarahan karena ego, melainkan karena kebenaran dan kekudusan. Namun bagi manusia, firman Tuhan mengajarkan agar kita mengendalikan diri, bersabar, dan tidak memicu pertengkaran.

Orang yang sabar:

Menahan kata-kata yang melukai. Mencari damai, bukan kemenangan. Mengutamakan kasih daripada ego.

Sebaliknya, orang pemarah sering:

Memperbesar masalah kecil. Memicu konflik berkepanjangan. Merusak hubungan dengan sesama.

 Pesan Moral untuk Kehidupan Sehari-hari 

Jangan memancing amarah orang lain melalui perkataan atau tindakan yang menyakitkan. Jika kita tahu sesuatu dapat melukai hati sesama, lebih baik menahan diri dan memilih jalan damai. Banyak permusuhan besar berawal dari emosi kecil yang tidak dikendalikan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.