Jakarta, Sinata.id — Kesempatan langka bagi pendidik dan tenaga kependidikan kembali dibuka. Kementerian Agama resmi meluncurkan Beasiswa S2 Double Degree 2026, sebuah program strategis yang membuka jalan studi magister dua gelar, lintas negara, dan berorientasi global. Pendaftaran telah dibuka dan akan ditutup pada 15 Februari 2026.
Program ini menjadi bagian dari Split-Site Master Program (SSMP) Cohort-10, hasil kolaborasi Kemenag dengan Australia Awards Indonesia dan LPDP. Skema studinya dirancang berlapis: satu tahun pendidikan magister di dalam negeri, lalu satu tahun lanjutan di luar negeri—memberi peserta pengalaman akademik internasional sekaligus jejaring global.
Dalam program ini, peserta akan menempuh studi awal di UIN Sunan Ampel Surabaya, kemudian melanjutkan pendidikan di University of Canberra, Australia, pada program magister Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL). Dua gelar, dua sistem pendidikan, satu tujuan: melahirkan SDM pendidikan keagamaan yang berdaya saing global.
Sekretaris Jenderal Kemenag, , menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan investasi jangka panjang negara.
“Program gelar ganda ini merupakan komitmen strategis Kementerian Agama dalam memperkuat kolaborasi internasional, meningkatkan mutu akademik, serta menyiapkan kepemimpinan pendidikan keagamaan yang unggul,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Kamaruddin, keterlibatan perguruan tinggi luar negeri memberi nilai tambah yang signifikan, baik dari sisi metodologi pembelajaran, riset, hingga penguatan kompetensi profesional lulusan.
Sementara itu, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, , menjelaskan bahwa sasaran beasiswa ini mencakup spektrum luas insan pendidikan di lingkungan Kemenag.
Peserta yang dapat mendaftar meliputi guru dan pendidik lembaga keagamaan, ustadz dan ustadzah, dosen serta tenaga kependidikan, pegawai Kemenag, hingga alumni perguruan tinggi keagamaan. Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas pendidik, khususnya di bidang Bahasa Inggris dan pengajaran lintas budaya.
“Beasiswa ini kami siapkan untuk mencetak pendidik dan dosen yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkompetisi dan berkolaborasi di tingkat internasional,” kata Ruchman.
Namun, peluang besar ini dibarengi seleksi yang ketat. Proses penjaringan peserta dilakukan berlapis, mulai dari seleksi administrasi, tes bakat skolastik, hingga wawancara. Peserta yang lolos tahap awal akan mengikuti seleksi lanjutan bersama Australia Awards Indonesia, termasuk uji kemampuan bahasa Inggris dan wawancara akademik.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.