Jakarta, Sinata.id — Ketika dunia menanti keputusan tentang kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, ancaman yang dilontarkan Presiden Donald Trump kini justru menghadirkan risiko besar bagi stabilitas kawasan dan potensi backfire atau reaksi balasan yang lebih luas dari Teheran. Situasi ini semakin memanas setelah AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk dan menghadapi respons keras dari Iran dan sekutunya.
Presiden Trump baru-baru ini dipantau sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas ke Iran dalam beberapa hari ke depan jika negosiasi nuklir dengan Teheran gagal mencapai titik temu. “Jika tidak ada kesepakatan yang bermakna, hal-hal buruk akan terjadi,” ujar Trump, memberikan batas waktu sekitar 10–15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, dikutip Minggu (22/2/2026).
Pernyataan Trump itu tidak hanya memicu kecemasan di pasar global, tetapi juga memicu respons keras dari otoritas Teheran. Pemerintah Iran telah menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan luar, bahkan bersikeras akan membela kedaulatan mereka dengan segala cara jika diserang. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan negaranya tidak akan “tunduk” di tengah tekanan militer dan diplomatik yang meningkat.
Respons serupa datang dari jaringan militer Iran yang meningkatkan latihan perang dan kesiapan tempur, termasuk latihan laut intensif tanpa preseden di Selat Hormuz, wilayah penting yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak global. Manuver militer ini dilakukan di tengah pembicaraan nuklir yang masih berjalan di Eropa, tetapi ketegangan tetap tinggi.
Senator AS Lindsey Graham, pendukung garis keras dalam kebijakan luar negeri Washington, justru mendorong Trump untuk mengabaikan penasihat yang menganjurkan langkah lebih tenang dan mengutamakan negosiasi. “Suara-suara yang menganjurkan ‘ketidakterlibatan’ semakin keras, tetapi itu salah,” kata Graham, menilai ancaman militer diperlukan untuk membawa perubahan drastis di Iran.
Namun analis keamanan dan diplomat memperingatkan bahwa ancaman militer bisa berbalik arah dan membawa konsekuensi yang jauh lebih berbahaya bagi para pihak termasuk AS sendiri. Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dipandang sebagai aksi perang, dan semua basis serta aset AS di kawasan akan dianggap legitimate targets dalam responsnya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.