MENU
Kisah Perjalanan Hidup Stephen Hawking, Sang Jenius yang Menaklukkan S...
WA FB
News

Kisah Perjalanan Hidup Stephen Hawking, Sang Jenius yang Menaklukkan Semesta dari Kursi Roda

R Editor : Redaksi Sinata | 14 Sep 2025 | 07:15 WIB
Kisah Perjalanan Hidup Stephen Hawking, Sang Jenius yang Menaklukkan Semesta dari Kursi Roda
Stephen Hawking.

Sinata.id - Dari kursi rodanya, Stephen Hawking membuktikan bahwa pikiran dan semangat jauh lebih kuat daripada tubuh yang rapuh. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa bahkan dalam keterbatasan paling gelap sekalipun, cahaya pengetahuan dan keberanian dapat menyinari semesta.

Ketika menyebut nama Stephen Hawking, dunia seolah berhenti sejenak untuk mengenang sosok jenius yang mengubah cara kita memahami alam semesta.

Ia bukan hanya seorang ilmuwan, tetapi juga simbol ketabahan, keberanian, dan keajaiban pikiran manusia. Dalam hidupnya, Hawking menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Stephen William Hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris, tepat 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei.

Keluarganya hidup sederhana tetapi sarat intelektualitas. Ayahnya, seorang peneliti biologi tropis, dan ibunya, seorang sekretaris di universitas, menanamkan kecintaan pada ilmu pengetahuan sejak dini.

Sejak kecil, Stephen Hawking dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia gemar membongkar jam tangan dan mainan mekanik untuk mengetahui cara kerjanya.

Namun, masa kecilnya tidak selalu berjalan mulus.

Di sekolah, ia bukan murid yang menonjol secara akademis. Banyak guru yang tidak menyangka bocah kurus itu kelak akan mengguncang dunia dengan teori-teori kosmologinya.

Awal Perjalanan Akademik

Pada usia 17 tahun, Hawking diterima di Universitas Oxford, mengambil jurusan fisika, meski awalnya sempat merasa bahwa kurikulumnya terlalu mudah.

Teman-temannya mengenalnya sebagai sosok cerdas, humoris, dan gemar humor gelap. Hawking sering menghabiskan waktu dengan klub dayung dan kegiatan sosial, memperlihatkan sisi remaja yang ceria dan penuh semangat.

Setelah menyelesaikan studinya di Oxford, Stephen Hawking melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Cambridge.

Di sinilah takdir mempertemukannya dengan tantangan terbesar dalam hidupnya—tantangan yang hampir menghancurkan segalanya.

Diagnosis yang Mengubah Segalanya

Pada usia 21 tahun, Hawking didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), sebuah penyakit saraf langka yang perlahan melumpuhkan otot-otot tubuh.

Dokter memperkirakan Hawking hanya memiliki sisa hidup dua tahun.

Namun, alih-alih menyerah, Stephen Hawking memilih untuk bertarung. Dalam salah satu wawancara, ia pernah mengatakan, "Meski ada awan gelap, saya memilih melihat bintang-bintang."

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.