Ironisnya, hidup mereka tetap miskin dan terbelenggu.
Uang mengalir ke wali, sementara Daisy dan Violet tetap hidup dalam keterbatasan.
Inilah kisah tragis yang jarang terungkap di balik gemerlap panggung hiburan.
Titik balik datang ketika pesulap legendaris Harry Houdini menyadarkan mereka akan hak hukum yang selama ini dirampas.
Dengan bantuan pengacara, Daisy dan Violet akhirnya bebas dari kendali wali yang menindas.
Namun kebebasan itu datang terlambat.
Upaya membangun kehidupan normal pun tidak mudah.
Ketika masing-masing mencoba menikah, negara bagian menolak pengesahan pernikahan mereka dengan alasan moral.
Bahkan hak paling mendasar sebagai manusia kembali dirampas dari kembar siam ini.
Meski sempat meraih sorotan lewat film Freaks (1932) dan menerbitkan autobiografi, popularitas mereka perlahan meredup.
Memasuki usia lanjut, Daisy dan Violet kehilangan pekerjaan di dunia hiburan.
Mereka jatuh miskin dan bekerja sebagai kasir toko kelontong—jauh dari sorotan yang dulu memanfaatkan tubuh mereka.
Akhir hidup mereka sunyi. Pada 1969, keduanya terserang flu.
Daisy meninggal lebih dulu, dan beberapa hari kemudian Violet menyusul.
Tidak ada panggung, tidak ada sorak penonton—hanya akhir dari sebuah kisah pilu yang terlalu panjang.
Kisah Daisy Hilton dan Violet Hilton bukan sekadar cerita tentang kembar siam, melainkan cermin gelap tentang bagaimana manusia bisa kehilangan martabatnya ketika empati dikalahkan oleh uang.
Sebuah kisah tragis yang hingga kini masih menggugah nurani dunia. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.