MENU
Konflik AS-Iran Bisa Picu Krisis Minyak Global
WA FB
Berita

Konflik AS-Iran Bisa Picu Krisis Minyak Global

R Editor : Redaksi Sinata | 25 Feb 2026 | 15:23 WIB
Konflik AS-Iran Bisa Picu Krisis Minyak Global
minyak (1)

Jakarta, Sinata.id - Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan utama pasar global setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Situasi geopolitik yang belum menemukan titik redanya telah mendorong lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, sebuah dinamika yang berdampak luas pada pasar energi, inflasi, dan prospek ekonomi global.

Perdagangan minyak mentah internasional menunjukkan tren reli yang kuat. Indeks harga Brent meningkat mendekati kisaran tertinggi sejak pertengahan 2025, sementara benchmark West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan signifikan. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar akan kemungkinan gangguan pasokan akibat krisis geopolitik.

Akhir pekan lalu, Brent sempat diperdagangkan di atas US$71 per barel, sedangkan WTI menutup perdagangan di kisaran lebih dari US$66 per barel, angka yang belum terlihat sejak awal semester lalu.

Seorang analis energi independen mengatakan bahwa “risiko konflik besar di Timur Tengah telah menciptakan premi geopolitik yang signifikan di pasar minyak,” di mana investor memperhitungkan kemungkinan terburuk jika ketegangan berkembang menjadi konflik militer yang lebih luas.

Data historis menunjukkan bahwa harga minyak sensitif terhadap potensi gangguan pasokan, terutama dari kawasan yang memegang peran sentral dalam ekspor energi global.

Salah satu kekhawatiran terbesar pasar adalah potensi terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menangani hampir 20% dari total perdagangan minyak dunia setiap harinya.

Sebagai jalur utama ekspor dari negara-negara penghasil minyak Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab serta Iran, setiap ancaman terhadap pergerakan kapal tanker di rute tersebut dapat memicu lonjakan harga drastis.

Para analis memperkirakan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar mengalami gangguan dalam skenario terburuk, harga minyak dapat melonjak jauh melewati angka rata-rata saat ini, bahkan menembus US$90 sampai di atas US$100 per barel, tergantung pada tingkat gangguan pasokan di pasar global.

Meski ketegangan geopolitik mengangkat harga energi dalam jangka pendek, kondisi fundamental pasar tetap menjadi faktor penentu jangka panjang. Pasokan minyak global menunjukkan tren meningkat seiring produksi dari sejumlah negara anggota OPEC+ dan negara non-OPEC, namun permintaan yang tidak seimbang dan kekhawatiran terhadap potensi konflik membuat sentimen pasar tetap waspada.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.