Oleh: Pdt. Mis Ev Daniel Pardede, M.H.
Dalam kehidupan manusia, keberhasilan sering kali diukur dari pencapaian materi, jabatan, atau kemenangan atas berbagai tantangan hidup. Namun, Alkitab memberikan perspektif yang lebih mendalam. Keberhasilan sejati bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan buah dari hikmat dan penyertaan Tuhan.
Kitab Pengkhotbah menegaskan, “Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat” (Pengkhotbah 10:10). Ayat ini menekankan bahwa hikmat ilahi merupakan kunci utama keberhasilan, yang melampaui kekuatan fisik maupun kecakapan manusia semata.
Sejarah iman bangsa Israel mencatat sejumlah tokoh yang mengalami keberhasilan karena hidup dalam takut akan Tuhan. Raja Uzia, yang naik takhta pada usia 16 tahun, menyadari keterbatasan pengalamannya. Namun, selama ia mencari Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya, Alkitab mencatat bahwa Tuhan membuat segala usahanya berhasil (2 Tawarikh 26:3–5).
Demikian pula Raja Daud, yang berasal dari latar belakang sederhana sebagai seorang gembala. Keberhasilannya dalam menghadapi musuh, termasuk bangsa Filistin, bukan semata-mata karena strategi militer, melainkan karena ia menempatkan Tuhan di barisan terdepan dalam setiap peperangan. Alkitab mencatat bahwa Daud selalu berhasil dalam segala perjalanannya karena Tuhan menyertainya (1 Samuel 18:5, 14).
Raja Hizkia juga menjadi teladan pemimpin yang berhasil karena hidup dalam takut akan Tuhan. Dalam tekanan dan ancaman musuh, Hizkia memilih berseru kepada Tuhan. Penyertaan Tuhan bukan hanya memberikan kemenangan, tetapi juga mendatangkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain (2 Tawarikh 32:20).
Selain para raja, kisah Yusuf menunjukkan bahwa keberhasilan tidak dibatasi oleh keadaan. Dijual sebagai budak dan dipenjara tanpa kesalahan, Yusuf tetap setia dan taat kepada Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Tuhan menyertai Yusuf dan membuat segala yang dikerjakannya berhasil, hingga akhirnya ia diangkat menjadi pemimpin di Mesir (Kejadian 39:2–3, 23).
Sebaliknya, Alkitab juga mencatat kegagalan bangsa Israel ketika mereka bertindak tanpa mengandalkan Tuhan dan melanggar perintah-Nya. Dalam peristiwa di padang gurun, peringatan Musa diabaikan, dan akibatnya bangsa Israel mengalami kekalahan (Bilangan 14:41–43). Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada kehendak Tuhan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.