Sebagian besar pasokan berasal dari Amerika Serikat, yang mengirim 3,94 juta ton senilai US$2,03 miliar.
Selain AS, LPG juga datang dari negara-negara kaya minyak seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, hingga Algeria.
Namun, pemerintah bertekad untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Salah satunya melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi DME, yang diharapkan bisa menggantikan LPG impor.
“Substitusi impor itu penting. Salah satunya lewat DME,” tegas Bahlil.
Pabrik Raksasa Lotte Chemical Investasi Rp62 Triliun
Langkah LCI bukan tanpa alasan. Pada Kamis (6/11/2025), Presiden Prabowo Subianto meresmikan langsung proyek New Ethylene Project milik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten.
Pabrik ini digadang-gadang sebagai tonggak besar hilirisasi sektor migas nasional.
Nilai investasinya fantastis, US$3,9 miliar, setara Rp62,4 triliun.
Kapasitas produksinya pun tak main-main: 3.200 kiloton per tahun (KTA) bahan baku naptha, ditambah dukungan LPG hingga 50 persen.
Pabrik ini disebut mampu menekan impor minyak dan gas hingga US$1,4 miliar per tahun, atau sekitar Rp23,42 triliun, sekaligus menghasilkan produk hilirisasi senilai US$2 miliar.
Dari angka itu, US$600 juta akan berkontribusi pada ekspor nasional.
“Sekitar 70 persen hasil produksinya akan diserap pasar domestik, sisanya 30 persen untuk ekspor,” ujar Bahlil.
“Selama ini kita banyak impor, sekarang kita mulai berbalik menjadi produsen,” imbuhnya.
Meski impor LPG untuk industri Lotte masih menjadi langkah awal, pemerintah memandang proyek ini sebagai bagian dari transisi besar menuju kemandirian energi nasional. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.