Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH Dukacita merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Dalam iman Kristen, dukacita bukanlah tanda kekalahan, melainkan ruang di mana kasih dan penghiburan Tuhan dinyatakan secara nyata. Hal ini ditegaskan dalam Matius 5:4, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
Yesus Kristus sendiri telah meneguhkan janji tersebut kepada para murid-Nya sebelum kenaikan-Nya ke surga. Ia menyampaikan bahwa akan ada masa dukacita, namun dukacita itu tidak dibiarkan tanpa harapan. Tuhan menjanjikan sukacita yang sejati—sukacita yang tidak bersumber dari keadaan, melainkan dari kehadiran-Nya yang setia menyertai umat-Nya.
Rasul Paulus dalam Filipi 4:4 menasihatkan umat percaya untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Namun, sukacita yang dimaksud bukanlah sikap abai terhadap penderitaan sesama. Sebaliknya, iman Kristen justru memanggil umat Tuhan untuk memiliki kepekaan hati, terutama kepada mereka yang sedang berada dalam lembah dukacita.
Kitab Pengkhotbah 7:2 dan 7:4 secara tegas mengajarkan hikmat ini: pergi ke rumah duka lebih mendidik jiwa dibandingkan menghadiri rumah pesta. Dukacita mengajar manusia tentang kefanaan hidup, kebergantungan kepada Tuhan, serta pentingnya empati dan kasih terhadap sesama.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, setiap orang diperhadapkan pada pilihan: mengejar kesenangan pribadi atau hadir menemani mereka yang sedang terluka. Firman Tuhan dalam Roma 12:15 memberikan pedoman yang jelas, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.” Ayat ini menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan melalui solidaritas dan kepedulian.
Pada akhirnya, kedewasaan iman tidak diukur dari seberapa sering kita bersukacita, melainkan seberapa tulus kita mampu berjalan bersama mereka yang berdukacita. Di sanalah kasih Kristus dinyatakan, dan di sanalah pula janji penghiburan Tuhan bekerja nyata dalam kehidupan umat-Nya. Shalom.(A27).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.