Oleh: Pdt. Mis Ev Daniel Pardede, M.H.
Pemahaman tentang tubuh manusia tidak hanya dapat ditinjau dari sudut pandang ilmiah, tetapi juga dari perspektif iman Kristen. Dalam Kitab Kejadian 2:7 ditegaskan bahwa Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup. Ayat ini menempatkan hidung sebagai bagian penting dalam karya penciptaan manusia.
Melalui seri Sarapan Pagi Kristen bertajuk “Panca Indra dan Roh”, pembahasan hari keempat mengangkat tema tentang fungsi dan makna hidung. Sebelumnya, refleksi telah disampaikan mengenai mulut, telinga, dan mata. Dalam pembahasan ini, hidung dipahami bukan sekadar sebagai organ fisik, melainkan sebagai saluran utama di mana nafas hidup dari Tuhan dihembuskan ke dalam diri manusia.
Secara biologis, hidung berfungsi sebagai jalan masuk udara yang kemudian diteruskan ke paru-paru, diolah menjadi oksigen, dan dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh. Melalui proses inilah kehidupan manusia dapat berlangsung. Namun secara rohani, proses tersebut menegaskan bahwa hidup manusia sepenuhnya bersumber dari Allah sebagai Pencipta.
Tubuh manusia dirancang dengan keterkaitan yang sempurna antarorgan. Tidak ada satu pun organ yang berdiri sendiri tanpa peran organ lainnya. Hidung, paru-paru, jantung, darah, tulang, dan seluruh sistem tubuh bekerja secara harmonis. Hal ini menunjukkan kebesaran hikmat Tuhan yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh akal manusia.
Selain berfungsi sebagai saluran pernapasan, hidung juga memiliki kemampuan untuk membedakan berbagai aroma di sekitarnya. Informasi tersebut diteruskan ke otak untuk diolah, sehingga manusia dapat mengenali dan merespons lingkungannya. Keseluruhan sistem ini menjadi bukti bahwa manusia diciptakan dengan rancangan yang sangat teratur dan sempurna.
Dalam iman Kristen, fakta ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun ciptaan manusia yang dapat menyamai karya Allah. Manusia mungkin mampu menciptakan teknologi canggih seperti pesawat, kapal, atau komputer, namun semua itu bukanlah makhluk hidup. Kehidupan sejati hanya berasal dari Tuhan.
Kitab Yesaya dan Mazmur menegaskan kemuliaan dan keagungan Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Dialah Allah yang Mahakuasa, Mahahadir, Mahatahu, dan Mahaadil. Oleh karena itu, hanya umat-Nya yang hidup dan telah ditebus yang layak memuji serta memuliakan nama-Nya, bukan orang mati atau mereka yang telah pergi ke tempat sunyi (Yesaya 40:12–31; Mazmur 115:1–18).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.