Oleh: PS Dion Panomban
Makna Hidup Dipimpin Roh Kudus di Tengah Zaman yang Jahat
Kehidupan rohani orang percaya tidak dapat dilepaskan dari tuntunan Roh Kudus. Di tengah dunia yang semakin kompleks, gelap, dan penuh tantangan moral, setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup dalam terang serta memahami kehendak Tuhan secara benar.
Melalui renungan dari Efesus 5:1–5, Rasul Paulus memberikan arahan yang tegas dan mendalam tentang bagaimana seharusnya hidup orang percaya. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan saat ini, ketika banyak orang mudah terseret arus dunia dan kehilangan arah rohani.
Menjadi Penurut Allah sebagai Anak yang Dikasihi
Dalam ayat pertama, Paulus menasihatkan agar setiap orang percaya menjadi “penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih.” Ini bukan sekadar ajakan moral, melainkan panggilan identitas.
Sebagai anak Tuhan, kehidupan kita harus mencerminkan karakter Bapa: penuh kasih, ketaatan, dan kekudusan.
Menjadi penurut Allah berarti hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap tindakan, perkataan, dan keputusan harus selaras dengan kehendak-Nya.
Hal-Hal yang Harus Dihindari oleh Anak Terang
Pada ayat 3–4, Paulus dengan tegas mengingatkan untuk menjauhi:
Percabulan
Segala bentuk kecemaran
Keserakahan
Perkataan kotor dan sembrono
Hal-hal tersebut bukan hanya merusak moral, tetapi juga menghambat pertumbuhan rohani. Bahkan disebutkan bahwa hal-hal itu “tidak pantas” bagi orang-orang kudus.
Di sinilah pentingnya hidup dalam pimpinan Roh Kudus, agar hati dan pikiran tetap terjaga dari pengaruh dunia yang merusak.
Apa yang Harus Dilakukan sebagai Anak Terang
Sebaliknya, Paulus mengajarkan agar orang percaya:
Hidup dalam kasih seperti Kristus
Mengucap syukur dalam segala hal
Menjaga perkataan dan sikap hidup
Ucapan syukur menjadi tanda hati yang hidup dalam terang. Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan lebih mudah bersyukur daripada mengeluh, serta lebih membangun daripada merusak.
Peringatan Keras yang Harus Diingat
Ayat 5 menjadi penegasan yang sangat serius:
Tidak ada orang yang hidup dalam dosa seperti percabulan, kecemaran, dan keserakahan yang akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Keserakahan bahkan disebut sebagai bentuk penyembahan berhala. Hal ini menunjukkan bahwa dosa bukan hanya pelanggaran, tetapi juga bentuk pengalihan hati dari Tuhan kepada hal lain.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.