Puncak penderitaan terjadi saat Yesus disalibkan di antara dua penjahat. Selama enam jam Ia tergantung di kayu salib, menanggung dosa manusia. Pada akhirnya, Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Firman Tuhan: “Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Lukas 23:46)
Mengapa Disebut Jumat Agung (Good Friday)?
Meskipun penuh penderitaan, hari ini disebut “Agung” karena melalui kematian-Nya, Yesus menebus dosa manusia dan mendamaikan hubungan antara manusia dengan Allah.
Firman Tuhan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yohanes 3:16)
Kematian Yesus menjadi jembatan keselamatan bagi umat manusia. Tanpa Jumat Agung, tidak akan ada kebangkitan pada hari Paskah.
Makna Bagi Kehidupan
Jumat Agung bukan sekadar mengenang penderitaan, tetapi menghidupi makna pengorbanan yang penuh kasih. Di balik luka dan kematian di kayu salib, tersimpan kasih Allah yang tak terbatas.
Pengorbanan Yesus menjadi bukti bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni dan tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan.
Kiranya momen suci ini menggerakkan hati kita untuk semakin dekat kepada Tuhan, hidup dalam pertobatan, serta meneladani kasih dan kerendahan hati Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab dari salib lahir pengharapan, dan dari kematian-Nya, manusia menerima kehidupan yang kekal. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.