Oleh: Kolom Rohani
Renungan rohani dari kitab Mazmur 63 mengingatkan manusia agar tidak hanya mengejar keinginan dunia, tetapi juga memelihara kerinduan jiwa kepada Tuhan yang memberi kepuasan sejati.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dipenuhi berbagai keinginan. Keinginan tersebut dapat berupa materi, jabatan, keberhasilan, atau berbagai pencapaian duniawi lainnya. Namun, kenyataannya banyak orang tetap merasa tidak puas meskipun berbagai kebutuhan jasmani telah terpenuhi.
Pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah:
apakah kita juga memiliki kerinduan yang sama untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan roh kita? Ataukah seluruh waktu dan perhatian kita telah habis untuk kesibukan dunia sehingga melupakan kebutuhan rohani?
Keinginan Manusia yang Tidak Pernah Puas
Secara alami manusia memiliki banyak keinginan. Ketika satu keinginan terpenuhi, sering kali muncul keinginan baru yang lebih besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepuasan duniawi bersifat sementara.
Banyak orang bekerja keras, mengejar kekayaan, status sosial, dan berbagai bentuk keberhasilan. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang tetap merasakan kekosongan batin.
Hal ini terjadi karena manusia bukan hanya memiliki tubuh, tetapi juga jiwa dan roh yang membutuhkan pemeliharaan rohani.
Kerinduan Jiwa kepada Tuhan
Dalam Mazmur 63:2, pemazmur mengungkapkan kerinduan yang sangat dalam kepada Tuhan:
"Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair."
Ayat ini menggambarkan hubungan yang intim antara manusia dengan Tuhan. Kerinduan kepada Tuhan diibaratkan seperti tanah kering yang sangat membutuhkan air. Tanpa air, tanah akan menjadi tandus dan tidak menghasilkan apa pun.
Demikian pula kehidupan manusia tanpa kedekatan dengan Tuhan. Secara lahiriah mungkin terlihat berhasil, tetapi secara rohani dapat menjadi kering dan kehilangan damai sejahtera.
Mendandani Rohani di Tengah Kesibukan Hidup
Kesibukan hidup sering membuat manusia lupa memelihara kehidupan rohaninya. Banyak waktu dihabiskan untuk pekerjaan, urusan ekonomi, dan berbagai aktivitas lainnya.
Padahal, kehidupan rohani juga perlu “dirawat” dan “didandani” melalui beberapa hal, antara lain:
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.