Refleksi ini menjadi pengingat bahwa iman Kristen tidak berhenti pada pemahaman teologis semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Membuka mata berarti peka terhadap penderitaan orang lain mereka yang miskin, sakit, lapar, terlantar, anak yatim piatu, serta para janda dan bersedia mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan keadilan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, mata bukan sekadar alat untuk melihat, melainkan cermin kesadaran rohani manusia. Ketika hati terbuka pada kebenaran, mata akan diarahkan untuk melihat karya Tuhan dan penderitaan sesama. Dari situlah iman menemukan wujudnya, bukan hanya dalam pengakuan, tetapi dalam tindakan nyata yang menghadirkan kasih, keadilan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.