Oleh : Ps Dion Panomban.
Saat Teduh Abah Home Family Selasa 28 April 2026, Kajian rohani keluarga yang berlangsung menyoroti pemahaman teologis mengenai peran iblis sebagai “pendakwa saudara-saudara” sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu pasal 12. Pembahasan ini menekankan pentingnya sikap tidak menghakimi sesama serta perbedaan mendasar antara teguran Tuhan dan tuduhan iblis dalam kehidupan orang percaya.
Materi perenungan mengangkat narasi peperangan di surga antara Mikhael dan para malaikat melawan naga, yang diidentifikasi sebagai iblis atau Satan. Dalam teks tersebut dijelaskan bahwa iblis secara konsisten melakukan tuduhan terhadap manusia, siang dan malam, sebagai upaya menjatuhkan secara rohani dan mental.
Tokoh utama dalam peristiwa ini adalah Mikhael beserta malaikat-malaikatnya, serta naga yang disebut sebagai iblis, yang juga didukung oleh malaikat-malaikatnya.
Peristiwa yang dirujuk merupakan gambaran simbolik yang terjadi di surga, sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu 12:7–11, yang menjadi dasar refleksi iman dalam perenungan.
Kajian ini menegaskan bahwa tuduhan atau penghakiman merupakan otoritas Tuhan, bukan manusia maupun iblis. Dalam perspektif iman Kristen, Tuhan memberikan teguran untuk memperbaiki perilaku, sedangkan iblis digambarkan menyerang identitas dan nilai diri manusia melalui tuduhan yang merendahkan.
Berdasarkan ayat yang dibahas, disebutkan bahwa kemenangan atas iblis dicapai melalui tiga hal utama:
1. Pengorbanan Kristus (darah Anak Domba), 2. Kesaksian iman, 3. Keteguhan hingga akhir, termasuk dalam penderitaan.
Ketiga aspek ini dipahami sebagai fondasi spiritual dalam menghadapi tekanan, tuduhan, dan pergumulan hidup.
Pendalaman dan Perenungan Sebagai bagian dari refleksi, peserta diajak menjawab sejumlah pertanyaan mendasar, antara lain:
Apa latar belakang terjadinya peperangan di surga? Mengapa keselamatan dinyatakan setelah kejatuhan iblis? Siapa yang mendukung iblis dalam pertempuran tersebut? Mengapa iblis tidak lagi memiliki tempat di surga? Apa makna kemenangan melalui pengorbanan, kesaksian, dan keteguhan iman?
Kajian ini menegaskan kembali pentingnya menjaga sikap terhadap sesama dengan tidak mudah menghakimi. Dalam ajaran iman Kristen, penghakiman adalah hak Tuhan, sementara manusia dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, kesaksian, dan keteguhan iman. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.