Dengan demikian, manajemen bijak terhadap cetanā merupakan inti dari kehidupan Buddhis. Setiap niat adalah benih, dan setiap benih pasti berbuah. Bila kita menanam niat dengan penuh kebencian, buah penderitaan tak terelakkan.
Namun bila kita menanam niat dengan welas asih dan kebijaksanaan, kehidupan akan dipenuhi kedamaian. Karena itu, setiap momen adalah kesempatan untuk menata arah batin: apakah kita akan menambah rantai samsara, ataukah perlahan membebaskannya.
Buddhisme mengajarkan bahwa kita tidak dapat menghindar dari hukum karma, tetapi kita dapat belajar mengelola cetanā dengan bijaksana. Dari kesadaran itulah lahir kebebasan sejati, bukan sekadar terbebas dari perbuatan salah, melainkan terbebas dari akar penderitaan yang bersumber pada batin itu sendiri. (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.