MENU
Marah Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Sampai Berdosa
WA FB
Religi

Marah Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Sampai Berdosa

F Editor : Ferry SP Sinamo | 03 Oct 2025 | 05:00 WIB
Marah Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Sampai Berdosa
Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH.

Oleh: Pdt Mis.Ev. Daniel Pardede, SH.MH Dalam kehidupan sehari-hari, marah adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Namun, Alkitab mengingatkan umat percaya agar kemarahan tidak membawa kepada dosa. Mazmur 4:5 menegaskan: “Biarpun kamu marah, janganlah berbuat dosa.”

Sayangnya, banyak orang justru terjebak dalam kemarahan yang salah. Kata-kata kotor, hinaan, tindakan tidak sopan bahkan mempermalukan diri sendiri sering muncul dalam luapan emosi. Inilah bentuk marah yang melahirkan dosa.

Marah yang Mendidik dan Membangun

Ada bentuk marah yang benar, yaitu marah yang disertai kasih dan bertujuan untuk membangun. Misalnya, menegur pengendara yang ugal-ugalan agar tidak mencelakai orang lain, menegur anak muda agar menjauhi narkoba, seks bebas, dan perjudian, atau memperingatkan seseorang agar tidak bermain api yang membahayakan.

Alkitab mengajarkan:

“Siapa yang tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya, tetapi siapa yang mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24)

“Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” (Amsal 29:15)

Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan ketika marah di Bait Allah. Dengan cambuk tali Ia mengusir para pedagang binatang, membalikkan meja penukar uang, dan berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:15)

Marah untuk Kebenaran dan Keadilan

Dalam konteks masyarakat saat ini, orang percaya dipanggil untuk berani menegur dan menyuarakan kebenaran, seperti nabi Yehezkiel pada zamannya. Itu berarti berani menegur:

1. Pemimpin rohani, pejabat publik, aparat negara, dan penegak hukum yang lalai terhadap sumpah jabatannya. 2. Para pelaku kejahatan: koruptor, pengedar narkoba, bandar judi, pelaku perdagangan manusia, hingga penipu yang merugikan sesama. 3. Setiap bentuk penyimpangan yang merusak moral dan melanggar hukum Tuhan.

Diam bukan pilihan, sebab diam bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Namun demikian, bijaklah dalam berbicara. Firman Tuhan berkata: “Orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri, dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (Amsal 17:28)

Marahlah dengan kasih, demi kebenaran dan keadilan, bukan karena emosi buta. Sebab firman Tuhan menegaskan:

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.