Pada 4 Februari 1978, di Stasiun Leuwigoong, peluru Carl Gustav milik Banpol Entik mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.
Euis kembali kehilangan cinta yang belum sempat ditebus.
[caption id="attachment_10256" align="alignnone" width="750"]
Mat Peci.[/caption]
Kematian Mat Peci memunculkan mitos di Garut. Konon, ia dan Euis pernah melanggar larangan berpacaran di sekitar Candi Cangkuang, sebuah mitos lokal yang dipercaya membawa sial.
Namun, sejarawan Warjita menyebut alasan yang lebih masuk akal, yakni karena penolakan keluarga Euis.
Ironisnya, Mat Peci bukan anak jalanan miskin, ia merupakan cucu dari seorang kiai di Leuwigoong, dibesarkan di keluarga berada.
“Dia bandel, tapi juga suka menolong,” ujar Warjita, dikutip dari detikCom, Minggu (14/9/2025).
Kini, kisah Mat Peci hidup sebagai legenda kelam, campuran getir antara cinta, pengkhianatan, dan keputusasaan yang mengubah seorang pemuda patah hati menjadi begal paling ditakuti di Priangan Timur. (A46)
Crime Story adalah rubrik khusus di Sinata.id yang menyajikan kisah-kisah kriminal dari berbagai belahan dunia. Setiap cerita dipilih secara cermat untuk membuka mata pembaca, meningkatkan kewaspadaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.