MENU
Menkeu Buka Keran Kredit Rp2 Triliun untuk Tekstil dan Furnitur Indone...
WA FB
News

Menkeu Buka Keran Kredit Rp2 Triliun untuk Tekstil dan Furnitur Indonesia

R Editor : Redaksi Sinata | 24 Dec 2025 | 16:49 WIB
Menkeu Buka Keran Kredit Rp2 Triliun untuk Tekstil dan Furnitur Indonesia
Meski pendaftar membludak, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan belum ada figur yang benar-benar layak memimpin OJK dalam masa transisi krusial. (Ist)

Sinata.id - Pemerintah membuka keran pembiayaan baru untuk menopang denyut industri padat karya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan fasilitas kredit senilai Rp2 triliun yang dikhususkan bagi pelaku usaha tekstil dan furnitur nasional, sebagai upaya memperkuat ekspor di tengah persaingan global yang kian ketat.

Skema pendanaan tersebut akan disalurkan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Purbaya menjelaskan, kebijakan ini merupakan respons atas kebutuhan pembiayaan pelaku usaha yang sebelumnya sempat mengajukan dukungan hingga Rp16 triliun, namun belum sepenuhnya terpenuhi.

“Kali ini kami siapkan Rp2 triliun terlebih dulu untuk perusahaan tekstil dan furnitur,” kata Purbaya saat memberikan keterangan kepada media di Jakarta, Rabu (24/12/2025).

Ia menegaskan, fasilitas kredit tersebut sudah dapat diakses dengan bunga kompetitif sebesar 6 persen. Namun, pembiayaan ini ditujukan secara selektif, yakni bagi perusahaan yang memiliki orientasi ekspor. “Silakan datang ke LPEI. Bunganya 6 persen, itu komitmen kami,” ujarnya.

Langkah pemerintah ini tak lepas dari masukan dunia usaha. Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) melakukan pertemuan dengan Purbaya untuk membahas dukungan konkret bagi sektor-sektor strategis. Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menyebut pembahasan mencakup deregulasi hingga insentif pembiayaan agar industri dalam negeri lebih kompetitif.

“Yang kami dorong adalah bagaimana pendanaannya bisa lebih mudah diakses dan bunganya lebih rendah,” kata Anindya usai pertemuan tersebut.

Menurut Kadin, industri furnitur dan tekstil memiliki peluang besar di pasar global. Untuk furnitur saja, nilai pasar dunia diperkirakan mencapai sekitar US$300 miliar. Namun, kontribusi Indonesia saat ini masih berada di kisaran US$2,5 miliar.

Anindya menilai, celah ini harus dimaksimalkan, terutama karena sektor furnitur menyerap sekitar 2,5 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “UMKM bukan hanya butuh dana yang murah dan tersedia, tetapi juga pendampingan—mulai dari akses pasar ekspor hingga aspek teknis produksi—karena tantangannya berbeda dengan perusahaan besar,” ujarnya.

Dengan suntikan pembiayaan ini, pemerintah berharap industri tekstil dan furnitur nasional mampu memperluas ekspor, memperkuat struktur industri dalam negeri, sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.