Oleh: Pdt Manser Sagala, M.Th.
Menutup tahun dengan sikap penyerahan diri (surrender) merupakan langkah rohani yang sarat makna bagi setiap orang percaya. Penyerahan diri bukanlah tanda kekalahan menghadapi keadaan, melainkan keputusan iman untuk melepaskan kendali pribadi dan mempercayakan sepenuhnya arah hidup kepada Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.
Momentum akhir tahun menjadi saat reflektif untuk menata kembali hati, pikiran, dan tujuan hidup, sekaligus menyiapkan diri memasuki tahun yang baru dengan iman yang diperbarui.
*Mengakui Kedaulatan Tuhan atas Waktu*
Sering kali manusia terjebak dalam kecemasan terhadap target yang belum tercapai atau ketidakpastian masa depan. Penyerahan diri dimulai dengan pengakuan bahwa waktu bukan berada dalam kendali manusia, melainkan di tangan Tuhan.
Firman Tuhan menegaskan, “Masa depanku ada dalam tangan-Mu” (Mazmur 31:16a). Ayat ini mengajarkan bahwa rencana Tuhan tidak pernah terlambat dan selalu lebih baik, sekalipun tidak selalu sejalan dengan perhitungan manusia.
*Melepaskan Beban dan Kegagalan Masa Lalu*
Akhir tahun kerap menjadi ruang bagi rasa bersalah dan penyesalan. Namun, penyerahan diri mengajak orang percaya untuk berhenti menghakimi diri sendiri dan menyerahkan seluruh kegagalan kepada kasih karunia Allah.
Rasul Paulus menegaskan, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” (Filipi 3:13). Penyerahan diri berarti meninggalkan beban masa lalu di kaki salib Kristus agar langkah ke depan menjadi lebih ringan.
*Menyerahkan Kekhawatiran Masa Depan*
Kekhawatiran tentang ekonomi, kesehatan, dan keluarga sering kali membayangi pergantian tahun. Dalam iman Kristen, penyerahan diri adalah tindakan aktif memindahkan beban tersebut dari pundak manusia kepada Tuhan.
Firman Tuhan berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7). Kata “serahkanlah” mengandung makna melemparkan seluruh beban dengan penuh kepercayaan bahwa Tuhan sanggup menopangnya.
*Komitmen Ketaatan Total*
Penyerahan diri yang sejati tidak berhenti pada doa, tetapi diwujudkan melalui ketaatan hidup. Rasul Paulus mengingatkan, “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah” (Roma 12:1).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.