Ia menuju dapur, menyalakan kompor, merebus air.
Tak lama, ia menawari, “Tak buatin sekalian, ya, Pak?”
Juri mengangguk tanpa curiga.
Tapi hanya Kasan yang tahu, di salah satu cangkir, ada campuran racun rumput, pembasmi nyawa yang tak kasat mata.
Maut di Secangkir Kopi
Dua cangkir kopi tersaji di meja dapur. Bau wangi kopi bercampur aroma gelap dendam yang nyaris tak tercium.
Juri menyeruputnya perlahan. Dua menit kemudian, tubuhnya oleng. Dadanya sesak. Ia muntah darah, terkapar.
Tapi Kasan belum puas. Dalam kalut dan kemarahan yang sudah melampaui batas, ia membekap mulut Juri dan memaksakan sisa racun ke tenggorokan ayah tirinya.
Tak butuh waktu lama, Juri meregang nyawa di lantai dapur.
Tubuhnya diikat dengan tali plastik, lalu dinaikkan ke motor Supra X hitam milik Kasan.
Dalam gelap subuh, tanpa suara, ia membawa jasad itu ke sebuah embung di Dusun Tawongan, Desa Kasiman.
Tubuh yang tak lagi bernyawa itu dilabuhkan ke air tenang.
Sekitar pukul 06.00 WIB, warga menemukan mayat terapung di embung.
Kedua tangan dan kaki terikat. Tak lama, polisi datang. Warga bergidik, bisik-bisik pun menyebar cepat.
Penyelidikan berlangsung intens. Satu per satu saksi diperiksa, termasuk Kasan dan istrinya.
Dua hari kemudian, misteri terpecahkan. Polisi menetapkan Kasan sebagai tersangka utama.
“Tersangka mengakui membunuh ayah tirinya karena jengkel terhadap perilaku korban yang sering mengintip istrinya mandi,” ujar Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu Sri Bintoro.
Akhir dari Sebuah Dendam
Rekonstruksi dilakukan, fakta demi fakta terbuka. Kasan merencanakan segalanya sejak malam sebelumnya.
Ia memilih racun rumput, senjata yang sunyi tapi mematikan.
Rabu, (25/1/2017), sidang vonis digelar. Hakim membacakan keputusan dengan suara tegas.
“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Kasan bin Sarman dengan hukuman 15 tahun penjara.”
Vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntutnya 18 tahun penjara.
Tapi bagi banyak orang, kisah ini jauh lebih berat dari sekadar angka.
Yanti kehilangan suami, Timur kehilangan suami, dan Bojonegoro kehilangan ketenangan.
Semuanya berawal dari sebuah godaan tak pantas, dan berakhir di secangkir kopi yang membawa maut. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.